Katro bukan bahasa indonesia yang baik dan benar, namun menjadi idiom kata yang digunakan sebagai acuan seseorang sedang dalam kondisi tidak bisa berpikir dengan jernih. Jika digunakan dalam bahasa pertemanan ataupun pergaulan mungkin biasa namun jika digunakan dalam konotasi luas sebenarnya tidaklah pantas digunakan.
Image by Gerd Altmann from Pixabay
Jadi sebelumnya mohon maaf jikabahasa yang digunakan kurang baik diucapkan atau saya gunakan kali ini untuk tulisan di malam ini.
Sekedar menggambarkan kondisi keadaan pikiran saya yang sedang tidak berpikir dengan jernih. Tidak dapat mencari satu atau kata yang baikuntuk dijadikan pokok bahasan dalam tulisan. Mungkin kalau bahasa baiknya dalam dunia penulis writer block katanya. Namun intinya sedang buntu dengan pemikiran yang sedang melanda dikepala. Terlihat memaksakan dan dipaksakan pada akhirnya,namun biarlah yang terpenting mungkin bisa menghasilkan sebagai coretan pengisi waktu dihari ini.
Tanpa disadari sudah memasuki pertengahan menjelang ramadhan, sebentar lagi kita akan menjalankan ibadah bulan puasa yang sangat dinanti oleh seluruh umat Islam didunia. Harapan dan impian masih banyak dan terus tercipta tentunya. Apkah bisa menjadi pribadi yang lebih baik atau masih berjuang melawan segala apa yang menjadi nafsu pada diri sendiri.
Lagi katro, padahal kalau dibilang memang sebelumnya tidak katro. Benar juga, artinya merasa lebih baik berarti sebelumnya. Wah,ini sudah menjadi suatu kesombongan pada diri sendiri tanpa disadari. Walah memang manusia memang tidak tahu diri sebenarnya, khususnya saya pribadi bukan anda yang membaca tulisan ini. Binggung meradang, kosong terhampar, dingin meyergap, panas menderu. Mati segan hidup maunya enak. Kacau memang diri saya ini. Ya, maaf sekali lagi namanya juga sedang katro, tapi jangan salah arti sedang galau ya.
Tanpa sebab tanpa menyebabkan, apa coba. Bahasa mana dan entah apa artinya. Kalau sedang bimbang bilang saja bimbang, kalau sedang butuh bilang saja butuh,kalau sedang kantong kering bilang saja miskin. Jelas padahal. Tapi tidak mau mengakui,malu dijadikan alasan disaat menggunakan bahasa tidak baik mengapa tidak malu? Aneh bin kadalisme dunia pemikiran saya saat ini. Tapi satu hal yang nyaman adalah saat menulis dengan bahasa sendiri rasanya leibh menenagkan dan tersampaikan, dari pada mencoba menggunakan bahasa asing yang sebenarnya memang asing buat aya. Translater belum bisa mewakilkan kata yang tepat sepertinya. Padahal jelas karena ketidak mampuan saya berbahasa asing.
Ya,mohon dimaafkan namanya juga sekali lagi sedang katro tapi memaksa ingin menulis. Jika buruk mohon dimaafkan dan jangan diambil contoh, buang dan anggap sebuah usaha seseorang yang sedng menuju kewarasan berpikir untuk belajar lebih baik menuju dunia penulisan yang semakin menggoda setiap waktunya.