Mungkin ini adalah dua sisi dari sifat manusia yang saling berseberangan, datang untuk menyakinkan akan masalah konsekuensi hasil berhasil atau tidak. Namun tidak bisa disamakan dengan perhitungan tingkat kemungkinan atau probabilitas. Karena ini bentuk sifat dan sikap bukan hitungan dalam dunia matematika benar atau salah.
Penguatan dasar akan kenyakinan membuat seseorang menjadi yakin akan apa yang menjadi pandangannya, yang melahirkan tata cara mengambil kesimpulan maupun bentukan langkah akan apa yang kemudian menjadi pedoman dalam pandangan hidupnya. Memang bisa terlahir dari beragam macam hal tentunya, yang seringnya hadir dalam bentukan pendapat, tata cara, maupun prediksi yang dilakukan berdasarkan pemikiran maupun diluar pemikiran.
Image by Mariana Anatoneag from Pixabay
Optimistik adalah sifat dasar yakin akan pemikirannya akan menghasilkan sesuatu yang berguna, walaupun pada satu titik mengalami kesalahan atau tidak sesuai dengan apa yang dihasilkan oleh pemikirannya. Sedangkan Pesimistik cenderung akan selalu memiliki sifat keraguan yang lebih besar dimana menghasilkan pemikiran kegagalan lebih besar dari pada keberhasilan.
Bila bertanya keduanya tentang mana yang lebih baik, tentunya optimis lebih baik dari pada pesimis, namun tidak menutup kemungkinan sang pesimis memberikan hal baik ketimbang si optimis. Karena masalah hasil atau akibat adalah tolak ukur yang pada akhirnya akan menjadi kunci jawaban dari keduanya. Lalu bagaimana mengambil jalan terbaik diantara keduanya untuk dijadikan sebagai pilihan agar menghasilkan hasil terbaik berdasarkan yang diinginkan?
Rasanya jawaban terbaik adalah kembali kepada belajar, mengerti, dan mengetahui. Belajar akan pokok masalah yang di optimiskan atau di pesimiskan, mengerti kondisi akan apa yang di optimiskan dan di pesimiskan serta mengetahui untuk apa hal yang di optimiskan atau di pesimiskan. Sehingga pembulatannya lagi-lagi kesadaran akan kodrat manusia yang berakal dan berakhlak mulia. Mengapa ada kata mulia, karena konteks mulia pastinya berwujud nilai kebenaran dan kebaikan didalam tujuan akhir segalanya.
Hal yang memiliki nilai atau tujuan mulia akan terkandung kebaikan, berisikan rasa syukur, memberikan perlindungan, bersifat rendah hati atas dasar malu, mendahulukan tujuan kepentingan rang banyak dibanding kepentingan pribadi. Berarti dapat dismpulkan optimis maupun pesimis yang berunsur kebaikan dapat diartikan kemuliaan didalamnya akan memberikan hasil yang baik diantara keduanya. Mau optimis atau pesimis selama itu bertujuan demi kebaikan berarti tidak akan merugikan.
-===-
Resource: read.cash