Seni menikmati karunia layaknya menjadikan makanan lebih lezat ketika memasuki kondisi yang lapar atau juga membuat tidur lebih nyenyak ketika selimut malam menyergap lelah raga. Seni ini tentang mengolah rasa, tentang penyembuhan diri, agar tak terjerat nafsu semu dan segala sesuatu bisikan tentang ketidaksabaran.
Image by Syaibatul Hamdi from Pixabay
Menikmati waktu-waktu menunggu dengan membaca detik-detik yang menjalar pelan ataupun yang terburu-buru, sehingga dapat mereguk hikmah yang menggantung pada titik rendah ataupun yang keadaan ketika malu melanda. Seperti ketika cita-cita besarku, cita-cita besarmu, atau cita-cita besar orang-orang semua yang belum kunjung tiba, disaat ini adalah kondisidimana sebuah seni menikmatikarunia menjadi nilai ukur akan keberadaan kita sebagai manusia, seperti nilai resitensi yang terjadi pada pasar untuk kenaikan level yang terjadi pada diri setiap manusia yang sedang diuji.
Kita sadar dan mengetahui bahwa setiap sesuatu hal itu ada harganya. Dimana setiap barang mahal yang kita dapat tidak mudah meraihnya, dan bahwa untuk setiap barang murah yang kita miliki tidak memerlukan usaha yang begitu rumit. Walaupun tidakmenutupkemungkinan dapat terbalik kondisinya, sesuai pada kondisi manusia itu sesuaiperjalanan hidupnya masing-masing. Intinya Tuhan lebih mengetahui kolerasi kondisi mahluknya.
Dalam kontek bahasa tercipta kebahagiaan akan dirasakan karena ada kesedihan,layaknya kesalahan dijawab dengan kata kebenaran. Agar kita tahu juga mana kebaikan dan dimana keburukan, semua tercipta karena Tuhan ingin setiap manusia dapat membaca, mengetahui dan terus mempelajari proses kehidupannya masing-masing.
Bertahan, bersabar dan menunggu. Lahir dari sebuah proses keinginan, impian, maupun kehendak dari setiap diri manusia. Membuat sebuah kondisi yang menjadikan sebuah seni untuk manusia yang mau mengerti akan kondisi keberadaan bahwa Tuhan yang mengatur segalanya. Sehingga dapat tercipta sebuah Seni menikmati karunia. Jika manusia tersebut tidak dapat mengikuti ujian tersebut dapat bisa dikatakan (sekali lagi dituliskan"bisa dikatakan" karena ini hanya ungkapan intinya Tuhan yang lebih mengetahui) tidak dapat melalui proses bertahan, bersabar,dan menunggu. Sehingga tidak akan merasakan apa itu arti dari Seni menikmati karunia.
Tidak hanyalah terkait bertahan, bersabar dan menanti, tapi berkenaan ketegaran, kemampuan mencegah diri, self-soothing, dan sebagainya. Bersama segala macam alasan layaknya “Waktunya belum tepat” atau “Diri kami belum pantas” pada apa yang tengah diidamkan, sesungguhnya tiap tiap insan tengah studi untuk sanggup menenangkan diri sendiri, menghindar diri sehingga kontrol masih didalam genggaman. Bersama satu catatan, proses pengusahaan impian itu masih dan akan tetap berlanjut.
Seni menikmati karunia tidak lepas juga jika dikaitkan untuk para kripto lover's tentunya. Semua berdasarkan proses, usaha, dan ketelitian. Sama saja layaknya menjalani proses kehidupan akan impian bukan. Bertahan,bersabar dan menunggu dalamsetiap kolerasi yang diusahakan tentunya. Pada akhirnya bila masa itu telah tiba maka akan merasakan apa arti dari Seni menikmati karunia yang ada.
Bukankah sebuah upaya akan ada hasilnya. Tidak memandang besar atau kecil. Namun upaya dengan tekad serta niat yang benar-benar diniatkan dengan upaya. Dan akhirnya dari seni menikmati karunia itu tercipta akan kesadaran bahwa tidak mungkin bagi kita untuk memiliki sesuatu dengan fungsi yang tidak seimbang. Sehingga membuat setiap insan memahami konsep yang menjadi dasar pemikiran maupun perilaku dalam hidup adalah suatu hal yang penting, untuk dapat menghilangkan pemikiran maupun multitafsir mengenai aktivitas-aktivitas yang berembel-embel sesuatu yang sia-sia (putus asa).