Betapa mempesonanya, bagaimana bisa asyik merasakan sebuah karakter baru ketika imajenasi itu tiba, lalu membagi dala setiap paragraf-paragraf untuk menjadi cerita, laksana memilih emosi lewat kata-kata. Betapa mengalunnya, bagaimana keinginan untuk bisa berlari dan pergi dengan bebas, seakan dapat membuat yang mati untuk dapat hidup kembali, walau semua itu tidak nyata. Betapa asyiknya suatu hari dikala jari-jari saya kasar ini mengetik, berusaha membahasakan apa yang ada dipikiran saat itu juga.
Ternyata selalu ada saja orang-orang yang tidak bisa diajak bercakap dan mau berbagi untuk segalanya. Karena baginya untuk menulis walau bersembunyi dalam lebih menenangkan daripada berbicara. Mungkin sebuah cara agar jatuh hati tak harus berakhir dengan patah dan remuk redam. Atau juga karena luka ternyata bisa disembuhkan.
Sehingga dapat membuatnya lupa, bagaimana asyik rasanya menghilangkan kebencian dari balik sebuah cerita.
Image by Rudy and Peter Skitterians from Pixabay
Pesona, alunan, serta asyiknya seakan dapat menari diatas genangan air yang begitu dalam. Menghadirkan ribuan untaian kata yang bisa membuat setiap jiwa dapat terhipnotis dan terlelap bagaidalam dekapan seorang yag sedang merindukan kasih sayang. Meleburkan amarah menjadikan pikiran matang untuk menenangkan dikala badai menerjang. Melemahkan kuatnya godaan nafsu yang berfemuruh disetiap waktu untuk dilakukan.
Menulis membuat seseorang dapat bercerita tentang kegaduhan sunyi yang ada dikepala. Membuat seseorang bisa berpikir akan dari ketidakberartian. Membuat orang melepaskan segalanya yang biasa menganjal dalam dunia nyata. Mendekatkan seseorang yang merasa jauh, antara manusia dengan manusia ataupun manusia dengan Sang Pencipta. Walau hanya satu warna yang ada kelabu, namun dapat menciptakan ribuan pelangi disana.
Ketika benci ditanam, maka kebaikan akan hilang. Ketika kebaikan yang tumbuh, maka kebencian akan layu. Layaknya teman bicara, menulis adalah suatu momen dimana seseorang melestarikan tulisan tangannya sendiri dan mengakrabkannya kembali akan keberadaan pena, kertas, maupun gadget yang kini hadir untuk memudahkan. Inilah teman berbicaraku yang takkan pernah sirna dan takkan pernah meninggalkanku hidup didunia.
-===-
Resource: Publish in English https://read.cash/@Alther/a-moment-but-not-a-moment-675db197