Di kota kota yang kini saya tinggali, tidak banyak ditemukan fasilitas khusus untuk pejalan kaki atau trotoar. Jalan raya dengan rumah atau ruko hanya dibatasi beberapa jengkal batas bahu jalan dengan sanitasi atau gorong-gorong. Sementara itu, rata - rata warga disini beraktivitas di luar rumah memanfaatkan kendaraan pribadi berupa motor, sebagian memanfaatkan kendaraan yang ada seperti sepeda dan mobil untuk yang berekonomi cukup baik.
Apakah fenomena ini tampak sinkron? Di satu sisi kurangnya fasilitas trotoar dan di sisi lain memang warga tampak nyaman dengan kendaraannya. Orang berjalan kaki, hanya untuk kepentingan - kepentingan tertentu, seperti berjalan untuk jarak pendek antara tempat parkir kendaraan dengan restoran misalnya.
Mungkin ada pejalan kaki, seperti orang luar daerah sini, namun pastinya disertai keluh kesah. Asap kendaraan bermotor mencemari hidung, ancaman dari pengguna jalan bermotor yang tidak taat aturan, kurangnya sesuatu yang menarik untuk dinikmati sambil berjalan, seperti deretan jajanan - jajanan, bangunan - bangunan kuno, atau taman - taman kota yang asri. Sejauh ini, orang merasa nyaman berjalan kaki hanya di tempat - tempat tertentu, misalnya di dekat pasar tradisional, di area perbelanjaan dekat pelabuhan, di area perkantoran pemerintahan, itu pun dengan deretan kendaraan parkir yang sekenanya memarkir kendaraan pada bahu jalan.
Sebelumnya selama diibukota sebelum menginjakkan kaki dikota ini,masih dapat kutemui trotoar serta kendaraan angkutan kota serta para pejalan kaki. Apa yang berbeda?
Setiap pagi, siang sore dan malam, saya masih dapat melakukan perjalanan untuk mengisi waktu dengan berjalan kaki, melintasi jalan - jalan kota pada daerah yang saya tuju atau singgahi. Melalui gedung -gedung pemerintahan, toko-toko, cafe, restoran-restoran, dengan memanfaatkan fasilitas trotoar yang layak untuk dimanfaatkan.
Nikmat juga, sebab kita merasakan energi positif dari orang - orang yang juga berjalan kaki lalu lalang di pinggir jalan, tidak melihat tua atau anak muda. Dan orang - orang itu, beberapa di antaranya adalah penikmat jalan atau turis yang datang dari penjuru kota di dunia. Selain itu, di pinggir jalan, berderet -deret jajanan rakyat, baik berupa seafood, penjual oleh - oleh berupa baju maupun sovenir - souvenir. Mungkin melelahkan namun memberikan rasa aman dan bahagia ketika berjalan kaki. Sebab seakan mendapatkan pandangan dan suasana yang dapat dirasakan sebagai pejalan kaki biasanya disuatu kota.
Untuk masyarakat Ibukota sendiri, juga mungkin masih banyak yang memilih bepergian dengan transportasi publik, sehingga ketika sore hari, sehabis kerja, sebagian besar anak - anak muda maupun pekerja, juga berlalu lalang di pinggir jalan. Mereka tak langsung pulang ke rumah, mungkin bersama teman ataupun sahabat, pacar singgah dulu menikmati jajanan pinggir jalan, masuk dulu ke restoran atau cafee, apalagi minggu minggu terakhir, malam - malam kita disajikan dengan segala penawaran yang disajikan. Anak - anak muda tentu menikmati musik itu di cafe.
Di jalan - jalan, juga berlalu lalang motor serta mobil, beserta transportasi yang ada. Transportasi ini menambah suasana akan kesiapan kemudahan untukpublikyang tidak memiliki kendaraan pribadi. Bersama bis - bis kota, berbaur dengan taksi - taksi yang juga bersaing dengan transportasi online seperti uber. Di sisi atas, terdapat kereta api modern yang melayang. Jalanan Ibukota menjadi pertemuan antara yang modern dan tradisional. Yang lama dirawat dan diwariskan, yang baru datang dan tak mengganggu.
Warga Ibukota juga dapat menghilangkan stress kerja di kantor dengan memanfaatkan malam - malamnya di jalanan, sembari menikmati kopi, thaitea, seafood . Hal ini, akan berdampak pada produktivitas kerja warga Ibukota. Tentu, warga Ibukota yang menjajakan makanan di pinggir jalan, dapat merasakan bagaimana memperoleh rezeki dari warga pejalan kaki.
Jika berbicara awut-awutan, polusi, macet dan lain sebagaimana yang disebabkan kendaraan bermotor tentunya tidak juga lepas dihindari diIbukota, malah bisa dikatakan lebih buruk mungkin dari pada daerah tempat saya tempati saat ini. Namun entah mengapa, keberadaan transportasi publik dan trotoar tidak banyak ditemukan. Jika ada trotoar hanya bisa dikatakan pada daerah pelabuhan dan perkantoran saja,itu jika dipersentasikan hanya bersikar 10% saja dari luas wilayah yang ada. Transportasi publik, hanya ojek saja yang tersedia, becak sudah tergerus oleh jaman.
Banyak hal memang jika diambil secara data sebenarnya berbeda, keberadaan ibukota dan kota yang saya tempati saat ini pendapatn serta keberadaannya mungkin memang tidak membutuhkan adanya transportasi publik. Bukan karena warganya semua mampu namun karena keberadaannya yang tidak memadai. Namun apakah untuk kata trotoar tidak pantas untuk tetap diadakan atau disediakan? Untuk yang ini masih menjadi tanda tanya besar mengapa tidak ada trotoar dijalan lintas atau jalan utama yang dilalui oleh kendaraan besar setiap waktunya.
-===-