(Selfie ria di Alue Naga)
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia... Selamanya
Selamat berjumpa lagi teman Hiver semuanya. Senang bisa menyapa kalian kembali hari ini. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih untuk semua apresiasi yang saya dapatkan pada postingan terdahulu. Postingan perdana saya di komunitas yang wabil khusus diperuntukkan bagi para Hiver dari Indonesia. Jujur saya sangat senang dengan lahirnya komunitas ini. Komunitas yang saya yakini sebagai rumah untuk kita semua para penggiat platform blockchain yang berasal dari negara Indonesia.
(Di Jembatan Leupung)
Secara umum bagi saya platform Hive masih yang terbaik dari platform sejenis yang ada. Disini, apresiasi yang kita dapatkan terasa lebih jujur dan sangat supportif sekali. Saya cukup punya pengalaman yang mana di platform sebelumnya, saya tidak merasa keluwesan dalam berkarya. Selain miskin apresiasi dalam bentuk komentar positif, saya merasakan hawa dingin persaingan terselubung yang tidak perlu terjadi. Jor-joran upvote yang diumbar di awal-awal kita tergabung dengan satu komunitas tak ubahnya perangkap untuk selanjutnya menghambakan diri kepada mereka.
(Lembah Seulawah)
Sementara disini, di platform Hive ini, saya merasakan kenikmatan dalam berkarya. Dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya masih punya ruang untuk berekspresi dan diterima dengan baik. Tak jarang kata-kata positif yang mampir di kolom komentar memberikan lecutan tersendiri bagi saya. Terkesan seperti ABG labil ya? Tapi nuansa vibrasi positif itu memang saya rasakan. Meskipun terkadang rada ogah-ogahan untuk membuat postingan, setiap karya yang saya haturkan dari hati nyatanya bisa mengetuk hati para Hiver yang tersesat ke postingan saya.
(Persawahan Padang Tiji)
Kesan positif itulah yang membuat saya tidak patah arang ketika pada pertengahan tahun lalu akun lama saya dibajak. Phising link, demikian istilah yang digunakan untuk menggambarkan kejahatan pencurian akun di platform ini. Modusnya sederhana sekali, postingan saya pada waktu itu dihampiri oleh sebuah tawaran vote for witness dari sebuah akun yang bernama
. Persis seperti ikan yang kelaparan meski sudah diberikan cukup makan, saya mengeklik link tersebut. Akibatnya, saya terlempar keluar dari website hive.blog, dan di detik yang selanjutnya akun saya sudah tidak lagi bisa diakses. Cilakanya, saya tidak menyimpan master key akun tersebut. Jadilah akun yang sudah mempunyai reputasi 65 dengan jumlah HP 780 digerus tak bersisa selang beberapa waktunya.
(Mabes Komunitas Kanot Bu)
Ada banyak andaikata yang mampir di kepala saya pada waktu itu. Namun kemudian saya sadar kalau yang terjadi itu memang nyata terjadi. Bahkan memang harus terjadi, hingga hanya hikmah saja yang tersisa untuk bisa menjadi pelajaran kedepannya. Tepat beberapa menit berselang akun lama saya
dibajak, saya meng- create akun baru yang sekarang saya gunakan. Beruntungnya, saya punya komunitas
yang tidak kendor dalam memberikan kurasi yang jumlahnya semakin aduhai. Meskipun hanya aksi selebrasi musik mingguan, di komunitas ini saya perlahan mulai membangun kembali reputasi hingga hari ini mencapai angka 60.
(Tetap tersenyum walau jalan yang harus ditempuh untuk meraih kesuksesan masih sangat panjang)
Saya tidak serta merta bermaksud mengatakan bahwa reputasi yang saya bangun dengan akun baru ini hanya semata karena kiprah saya di komunitas
. Akan tetapi, sebelumnya saya kesulitan untuk mendapatkan rumah yang tepat untuk rutinitas karya harian. Syukur Alhamdulillah dua minggu belakangan ini, bro
membangunkan saya dari kembara pikiran yang tak tentu rimbanya. Saya diarahkan untuk bergabung dengan komunitas @CCH. Disini, saya merasakan bahwasanya treknya mulai terlihat untuk dijalani. Tapi, saya masih merasakan ganjalan ketika effort yang saya lakukan untuk mencapai standar kepuasan sendiri masih kurang. Postingan di komunitas @CCH ini membutuhkan mobilitas yang tinggi agar isi postingan tidak itu-itu saja. Saya sempat terpikir untuk ngebolang menjelajah untuk mencari bahan postingan. Hal yang sepertinya sulit mengingat usia yang sudah tidak muda plus berat badan yang semakin sulit disangga oleh kedua lutut.
(Di depan rumah peninggalan Abisyik, di desa Pulo Tanjong, Metareum. Rumah untukku kembali)
Alhamdulillah Wasyukurillah, setelah sekian lama merindukan rumah untuk pulang, akhirnya jawaban dari doa yang diam-diam kupanjatkan terjawab sudah. Rumah untuk komunitas Hiver Indonesia kini sudah di renovasi kembali atas inisiasi dari mabro mamen
. Dengan dukungan dari beliau dari bangsa Osmani sana, komunitas ini seolah hadir kembali untuk menampung curhat colongan penulis amatiran bin lebay seperti saya. Kata-kata mungkin akan sulit untuk menggambarkan betapa senangnya saya saat ini. Kerinduan akan rumah komunitas yang bisa memberikan apresiasi setiap harinya kini tersedia. Semoga hal baik ini bisa terus berlanjut dengan baik dan semakin baik kedepannya.