Ini adalah foto jadul gaess. Gak jadul jadul amat sih, tapi rela kok buat di share disini Ama kalian semua. Dua lelaki yang ada dalam gambar ini adalah temanku dan aku. Temanku yang bertopi koboi 🤠ini adalah Robert Chennery. Pria tampan berwajah seperti Mithun Cakravorthy di waktu muda. Kalau Mithun adalah bintang top Bollywood era 80an, Robert adalah bintang Pelem dalam kehidupannya sendiri yang penuh lika-liku seperti lagu dangdut. Dangdutnya hidup kami hampir serupa memang. Ya hampir semua kita punya likuan dangdut tersendiri dalam hidup.
Latar belakang gambar di belakang kami adalah Rumoh Le Guna Kampus universitas Jabal Ghafur Sigli. Kampus yang menyimpan banyak kenangan bagi kami yang dahulu menggumulinya. Tahun 2007, merupakan tahun dimana kampus Gle Gapui yang sudah lama vakum, karena imbas konflik Aceh tahun 1999-2005, mulai berdenyut kembali. Birokrasi dan kami mahasiswa saat itu kuliah di ruko jalan Pasi Rawa. Semua terpusat di ruko-ruko kawasan Kramat Luar, kota Sigli tersebut. Pasca Aceh damai tahun 2005, di tahun yang sama aku terdaftar sebagai mahasiswa FKIP PRODI Bahasa Inggris, mahasiswa mulai ramai kembali kuliah di kampus ini.
Ramainya Mahasiswa baru saat itu tidak membuat Pihak Yayasan mengembalikan kegiatan kuliah ke kampus asal di Gle Gapui. Kamu harus kuliah dengan memakai ruang sekolah SMP dan SMA yan yang ada di kota Sigli. Mulailah pada saat itu, kami merasa ada yang tidak beres dengan Yayasan Kampus. Isu pengembalian kegiatan kampus ke Gle Gapui mulai kami gemboskan secara perlahan namun massive. Aku ingat sampai menyatroni debat kandidat Presiden Mahasiswa UNIGHA hanya untuk menggembosi siapapun PRESMA terpilih nantinya untuk siap memindahkan Sekretariat PEMA ke Gle Gapui. Itulah asal muasal kami berdinamika ria dengan berbagai problematika kampus yang menguras tenaga, pikiran, dan air mata.
(Rumah Aceh yang seharusnya dalam perawatan kampus kini hancur nyaris tak bersisa)
Itulah sekelumit kisah kenapa aku dan beberapa teman seperjuangan merasa masih terikat dengan kampus ini. Setiap kepulangan ke Sigli, aku pasti meluangkan waktu untuk berkunjung ke kampus ini. Hampir tak ada perubahan yang berarti. Penambahan beberapa gedung tidak membuat kampus menjadi lebih apik. Banyak bangunan lama yang terlihat semakin rapuh dimakan usia. Konon mahasiswa yang kuliah pun semakin sedikit. Fakta-fakta bahwa kampus ini pernah dikenal ke berbagai penjuru negeri semakin terkikis oleh kurangnya perhatian dari stakeholder yang ada di PIDIE. Tak ada sisa hasrat menunaikan visi yang besar seperti tertera di UUD 45, Mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang masih tersisa hanyalah wajah lama jabatan baru sebagai kaki tangan penguasa.
Gambar yang kumuat diatas kuambil beberapa waktu lalu pada saat aku main ke kampus. Masih sehijau dulu, masih asik untuk ditongkrongi. Semoga kedepannya kampus ini bisa lebih mendapatkan cinta dari para penguasa. Kampus yang sudah banyak melahirkan tokoh-tokoh masyarakat tak seharusnya hilang ditelan kejamnya zaman. Toh kiamat juga belum tiba. Kenapa tidak kita jaga agar nama KAMPUS JABAL GHAFUR ABADI SEPANJANG MASA...