(Aku dan sepeda tetangga)
Kalian lihat sepeda mungil yang sedang aku naiki itu. Apa yang terlintas di kepala kalian saat melihat foto ini cukup mengundang tanyaku. Ini adalah foto lama yang sebelumnya sudah pernah aku posting di platform sosmed lain seperti Facebook dan Instagram. Namun kali ini, aku tertarik untuk membaginya dengan kalian pada postingan hari ini. Foto itu diambil oleh temanku saat aku masih mengayuh biduk kehidupan di ibukota Jakarta. Salah satu fase hidup yang cukup menyimpan memori pahit manisnya kehidupan.
You see that little bike I'm riding. What comes to your head when you see this photo makes me curious to know about it. This is an old photo that I have previously posted on other social media platforms such as Facebook and Instagram. But this time, I'm interested in sharing it with you guys in today's post. The photo was taken by a friend of mine when I was still doing my life in the capital city of Jakarta. One phase of life that is enough to save the bittersweet memory of life.
(Foto bersama para Guru di FOCUS English Learning Community, Jakarta)
Anda punya pengalaman dengan sepeda? Mungkin sebagian besar dari orang kebanyakan pernah punya sepeda pada suatu masa. Biasanya masa kecil kita, sepeda adalah teman bermain yang asik. Bahkan setelah dewasa, ada banyak orang yang menggemari olahraga bersepeda sebagai bagian dari gaya hidupnya. Namun aku tertarik dengan filosofi bersepeda ini. Untuk menggerakkan sepeda kita harus terus mendayungnya dengan keseimbangan yang terjaga. Sepeda harus tetap dikayuh pedalnya agar kita tidak terjatuh. Demikian pula dengan kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Roda kehidupan yang senantiasa berputar membuat kita harus tetap fokus untuk tetap bertahan. Bertahan dari jalanan yang tidak selamanya mulus dan lurus tanpa likuan yang bisa membuat kita terjatuh.
Do you have experience with bicycles? Perhaps most of the average person has owned a bicycle at some time. Usually our childhood, the bicycle is a cool playmate. Even as adults, there are many people who enjoy cycling as part of their lifestyle. But I'm intrigued by this cycling philosophy. To move the bicycle we must continue to row it with a maintained balance. The bicycle must still be pedaled so that we do not fall. It is the same with our daily life. The wheel of life that is always spinning makes us have to stay focused to stay afloat. Survive the roads that are not always smooth and straight without twists that can make us fall.
(Foto bersama Mamang warung di kawasan Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat)
Sepeda kehidupan yang kukayuh pernah membawaku terbang melintasi gugusan pulau di khatulistiwa ini. Dari ujung barat Sumatera, rodanya berputar dengan cepat mencapai kehidupan yang pernah kujalani di pulau Jawa. Salah satu periode kehidupan yang sangat mengesankan bagiku. Bekerja sebagai salah seorang guru kursus di lembaga FOCUS English Learning Community, di kawasan Perumahan Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat. Kurang lebih delapan tahun lamanya aku bertahan di ibukota Jakarta. Nanti, jika ibukota negara Indonesia ini di pindah ke pulau Kalimantan, setidaknya aku sudah pernah mengalami situasi dari sebuah kota yang merupakan ibukota negara. Ruwet Man!
The bicycle of life that I rode once took me flying across this group of islands at the equator. From the western tip of Sumatra, the wheels spin rapidly to reach the life I once lived on the island of Java. One of the most memorable periods of my life. Works as a course teacher at the FOCUS English Learning Community institution, in the Puri Indah Housing Area, Kembangan, West Jakarta. I have lived in the capital city of Jakarta for about eight years. Later, if the capital city of Indonesia is moved to the island of Kalimantan, at least I have experienced the situation of a city which is the capital of the country. What a Messy, Man!
(With Paijo, the security at Perumahan Puri Indah Kembangan Jakarta Barat)
Riuhnya kota Jakarta cukup membuatku kelabakan mengikuti iramanya. Hingga pada akhir tahun 2020 aku kembali melanjutkan perjalanan hidupku dengan kembali ke Aceh. Disini, segala sesuatu berjalan lebih lancar. Meskipun tanpa pekerjaan yang tetap, aku masih bertahan dengan segala kondisi yang ada. Namun perjalanan hidupku belum berakhir disini, masih ada yang ingin aku lakukan. Memiliki sekolah sendiri adalah cita-cita yang ingin kucapai kedepannya. Mempersiapkan diri untuk mengambil tanggung jawab itu adalah hal yang harus kulakukan saat ini. Meskipun kayuh roda sepedaku sedikit melemah saat ini, pilihan untuk berhenti hanya akan membuat hidup terasa mati.
The bustle of the city of Jakarta is enough to make me nervous to follow the rhythm. Until the end of 2020 I resumed my journey of life by returning to Aceh. Here, everything runs more smoothly. Even without a steady job, I still survive under all conditions. But the journey of my life does not end here, there is still something I want to do. Having my own school is a dream that I want to achieve in the future. Preparing myself to take on that responsibility is what I have to do right now. Even though the pedaling of my bicycle wheel is a bit weak at this point, the choice to stop will only make life feel like death.
(Momen di Jembatan Teuku Umar, Tangerang)
(Momen Banjir Jakarta-2020)
(Nongkrong di pos saat banjir)
Baiklah teman Hiver semuanya, aku akhiri sampai disini dulu tulisan postingan untuk hari ini. Semoga yang tersesat disini tidak bosan membacanya. Sampai jumpa di postingan berikutnya. Tetap semangat untuk bergiat di platform ini teman-teman. Semoga bisa membantu baik dari sisi finansial dengan hadiah koin yang kita dapatkan, atau dari sisi lumrahnya seseorang harus tetap melakukan sesuatu dalam keseharian.
Alright Hiver friends, I'll end it here for today's post. Hopefully those who are lost here don't get bored reading it. See you in the next post. Keep the spirit to be active on this platform, friends. Hopefully it can help both from the financial side with the coin prizes that we get, or from the normal side that someone has to keep doing something in their daily lives.