Salam Olahrasa
Hari ini aku sudah berada kembali di Aceh. Tepatnya di desa Linggong Sagoe, Iboih, Simpang tiga. Setelah semalaman menempuh perjalanan jauh dari Medan, aku tertidur pulas di bale gazebo halaman belakang rumah Om Ijal. Cuaca cukup cerah dan terik matahari menyengat bumi dengan sinarnya. Aku menghabiskan waktu dengan menonton film kolosal dari negeri ginseng sebelum tertidur hingga menjelang sore hari. Angin yang berhembus membuat waktu yang terlewati tak terasa sama sekali.
Terbangun beberapa saat sebelum waktunya sholat Ashar tiba, aku merasa badan dan kepala terasa lebih ringan. Kuserbu dapur untuk melihat makanan yang ada di bawah tutup raga. Ikan teri sambalado plus terong balado berpadu dengan ikan asin segera kusantap dengan sigap. Selesai makan, aku kembali ke gazebo. Terlihat di tanah kosong sebelah gazebo kami, ada suara anak kecil bercecowetan. Riuhnya cukup menularkan semangat di sore yang cerah ini.
Bermain sepakbola adalah olahraga yang digemari banyak orang di Aceh dan belahan dunia lainnya. Itulah yang menyebabkan keriuhan anak-anak yang gambarnya aku abadikan dalam postingan ini. Mereka sedang asyik bermain bola sembari bersenda gurau. Olahraga yang kugemari sejak kecil sampai kapanpun itu. Apa yang tersaji di pelupuk mata membawaku kembali ke masa lalu. Masa kecil dan remaja di lapangan teratai desa Mns. Jurong Teupin Pukat, Pidie Jaya. Dulu hampir saban sore lapangan bola itu dipenuhi warga desa dari berbagai kalangan usia. Tak hanya warga kampung kami saja. Warga kota Meureudu juga kompak hadir untuk bal-balan di setiap sore setelah rutinitas mereka bekerja.
Masih jelas membayang betapa serunya masa-masa tersebut. Tak ada aturan yang mengikat kami bergelut dengan bola di lapangan. Aturan yang diadopsi cuma handsball dan outball. Yang lain tak terpakai sama sekali. Jumlah pemain bisa berbanding 15 lawan 30. Biasanya pada berebut untuk menyerang satu sisi lapangan yang terbilang mulus. Sementara disisi yang satunya kayak bulan jerawatan, dimana lobang dan gundukan bekas binatang sebangsa kepiting tanah hidup, yang menjadikan kami harus menari samba sembari menggocek bola. Tak hanya harus melewati lawan, kami juga harus ber-zigzag ria menghindari lobang-lobang dan gundukan tanah liat yang sudah membatu. Sungguh masa-masa yang indah untuk dikenang.
Hari ini, menyaksikan anak-anak kecil bermain bola dengan riang gembira sungguh lebih indah dari momen nonton final liga Champions. Anak-anak kecil itu begitu lepas menikmati kejar-mengejar si kulit bundar. Sayup aku mendengar ada yang mengusulkan untuk taruhan menggunakan rupiah. Aku hanya bisa senyum nyengir kuda mendengar percakapan mereka. Kenakalan yang pastinya turun dari pendahulu mereka. Dulu, kami pun kerap menggunakan uang kolekan sebagai taruhannya. Semata karena ingin permainan berlangsung lebih serius.
Well... Teman-teman semua, aku akhiri sampai disini dulu tulisan postingan untuk hari ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan sisa umur. Tetap semangat untuk bergiat di platform ini teman-teman. Platform yang bisa memberikan kontribusi bagi kesehatan rohani kita agar terjaga penyaluran kreativitas yang kita punya. Sampai jumpa di postingan berikutnya...🤗🤗🤗