Aku terbangun dari tidurku pada pukul 6.00 Waktu Indonesia Bagian Barat pada hari ini. Terbangun agak cepat karena akan kembali melakukan aktivitas Workshop Guru Program Presisi Tahun 2022 yang memasuki hari kedua. Sempat sedikit dilanda kepanikan karena ternyata laptop adikku yang kupinjam akan dipakai dia untuk mengajar di sekolah. Namun ternyata dia kasihan melihatku yang jadi uring-uringan, jadilah dibatalkan olehnya untuk memakai laptop itu. Dan aku pun bisa dengan leluasa menjamahnya pada pagi hingga menjelang sore hari tadi. Sungguh pengertian yang luar biasa dari sang adik yang sering kugerecoki kepada si fakir yang satu ini... hahahaha 🤗
Workshop kami mulai dengan sesi Main Room pada pukul 10. 15 WIB. Sebenarnya guru sudah memulai kegiatan hari ini dengan belajar mandiri di LMS yang dirancang oleh salah satu tim perumus program Presisi ini. Meskipun ada kendala untuk mengakses website tersebut, karena ada 400 guru yang masuk secara bersamaan dari seluruh provinsi atau kabupaten/kota yang terlibat, sesi Main Room berjalan dengan lancar. Pada sesi ini, aku membuka dengan menyampaikan materi yang telah di formulasikan kedalam power point (PPT).
Adapun modul diskusi untuk hari kedua ini bertemakan "Paradigma Pendidikan Kontekstual Berbasis Proyek". Ki Hajar Dewantara menjelaskan pendidikan merupakan bagian dari cara manusia memenuhi tugas untuk berkembang sesuai kodratnya. Pandangan tersebut menegaskan tentang tiga persoalan dasar sekitar relasi manusia dan pendidikan. Tiga hal tersebut adalah tentang hakikat atau kodrat manusia, tentang pendidikan sebagai bagian dari upaya manusia mengembangkan diri, dan tentang tujuan manusia mengembangkan diri.
Lebih lanjut, Ki Hadjar Dewantara juga menjelaskan, "pendidikan adalah tuntunan segala kodrat yang ada pada anak, agar nantinya mereka sebagai manusia dan sebagai masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya". Tokoh ini juga menegaskan bahwa setiap pendidikan didasarkan pada pemahaman tentang “segala kodrat yang ada pada anak”. Bagi Ki Hajar Dewantara setiap pemangku kepentingan pendidikan anak, baik guru, kepala sekolah, orang tua semestinya memahami secara baik tentang kesempurnaan kodrat anak sebagai subyek berkesadaran. Guru dan para pihak pemangku kepentingan pendidikan pun mampu mengambil peran sebagai penuntun perkembangan jiwa anak.
Seperti sudah dijelaskan diatas, bahwa kodrat manusia terdiri dari raga selain jiwa. Jiwa dengan kemampuan akal, rasa, dan karsa adalah sesuatu dalam diri manusia yang bersifat rohani karena keberadaannya tidak tampak sebagai zat atau materi. Sedangkan raga bersifat jasmani karena substansinya berupa materi yang bisa dilihat, dipegang, dan bisa lebur sebagaimana mahkluk lain seperti binatang. Tapi dalam diri manusia ada kesatuan tidak terpisahkan antara jiwa dan raga. Untuk itu keseimbangan jasmani dan rohani harus tetap terjaga agar kesadaran dan tindakan bisa selaras hingga anak dapat memiliki kepribadian. Kepribadian yang merupakan karakteristik yang khas setiap orang atau juga disebut persona. Begitu muliannya nilai-nilai keutamaan persona sehingga Driyarkara, tokoh lainnya yang pokok pemikiran beliau dijadikan landasan utama program Presisi ini, tegas mengatakan bahwa mendekati persona tanpa keutamaan cinta, terlebih menjadikan persona hanya sebagai obyek atau alat merupakan pemerkosaan atas martabat manusia.
Pendidikan kontekstual adalah pendidikan dengan paradigma siswa sebagai pribadi merdeka yang berkembang bersama dengan dunianya. Paradigma itu menegaskan bahwa pendidikan merupakan suatu gagasan yang timbul dari kehendak untuk menjawab kebutuhan perkembangan siswa sebagai subjek (pribadi) yang berada bersama dengan dunianya. Dengan demikian maka tugas utama dan pertama pendidikan adalah mengidentifikasi fitrah siswa sebagai subyek (pribadi) yang perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari dunia atau lingkungan dimana siswa berada. Selanjutnya tugas kedua dari pendidikan adalah menuntun siswa untuk semakin menyempurna dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Zaman yang terus berkembang adalah keniscayaan. Pendidikan adalah bagian penting yang menentukan perkembangan zaman, tapi sekaligus pendidikan juga ditentukan oleh zaman. Indonesia di zaman dulu, pada masa awal kemerdekaan, berbeda dengan Indonesia di zaman sekarang. Indonesia zaman sekarang tidak bisa lepas dari tuntutan revolusi 4.0 yang ditandai dengan arus global pemanfaatan teknologi digital. Lepas dari sisi gelap penyalahgunaan yang sangat mungkin terjadi, teknologi menjadi media pembelajaran sekaligus media yang mendekatkan setiap orang degan sumber informasi yang dibutuhkan. Perkembangan teknologi memaksa setiap pelaku pendidikan untuk mendefinisikan ulang berbagai aspek pendidikan yang konvensional. Kelas tidak lagi hanya dimengerti sebagai ruang dengan empat diding tembok persegi. Kegiatan pembelajaran tidak hanya sebatas pengertian siswa duduk bersama mendengarkan guru menyampaikan informasi. Dengan teknologi siswa dapat belajar mandiri dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.
Berfoto bersama selesai diskusi sebelum istirahat siang
Berfoto-foto ria selesai sesi terakhir main room hari ini
Itulah sedikit uraian dari apa yang menjadi pemikiran dua tokoh nasional pendidikan kita. Apa yang aku syukuri dari proses Workshop hari kedua ini adalah semangat guru-guru muda untuk mengulik modul dan belajar mandiri berjalan selaras dengan apa yang mereka sampaikan di dalam sesi diskusi. Semoga pada hari-hari selanjutnya kegiatan ini akan lebih membuka wacana berfikir para guru untuk memahami perubahan peran mereka didalam mendidik siswa. Bagaimanapun semangat para guru adalah motivasi tersendiri buat saya pribadi untuk menyelami lagi betapa kayanya pemikiran dua tokoh pendidikan kita. Semoga kedepannya apa yang dicita-citakan oleh bapak pendidikan kita ini bisa kembali menjadi tonggak untuk perbaikan kualitas pendidikan kita di masa yang akan datang.