Bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di negara orang itu bukan sebuah cita-cita, tetapi sebuah perjuangan dan batu loncatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Begitulah yang saya percayai, sejak kaki ini menapak di sebuah pulau indah, yang berbentuk daun –Pulau Formosa-Nama lain dari Taiwan.
Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya usia, saya pun mengenal beberapa oragnisasi WNI di Taiwan juga perhimpunan pelajar Indonesia (PPI) Taiwan. Dimana beberapa program yang dijalanmkan untuk memberdayakan WNI yang ada di Taiwan. Program yang diberikan antara lain, Pelatihan desain grafis, lomba menulis serta edukasi Kesehatan alat reproduksi bagi para pekerja perempuan.
Pekan lalu, saya juga mengikuti salah satu program PPI Taiwan yang diinisiasi oleh departemen komunikasi, yaitu belatihan desain grafis: sebagai modal soft skill kepada pekerja migran Indonesia, kelak jika pulang ke tanah air. Pada postingan kali ini saya ingin berbagi cerita saat pelatihan tatap muka yang bertama, dimana tidak terlalu banyak peserta yang datang untuk mengikuti.
p>Pada kelas pertama, semua peserta yang hadir wajib melakukan perkenalan diri. Sangat luar biasa, karena peserta tidak hanya bekerja di daerah Taipei, tetapi juga wilayah bagian bawah, daerah Chiayi. Dimana peserta harus berangkat pukul 5 pagi untuk sampai Neihu pukul 10.00 pagi. Sebuah perjuangan yang sangat luar biasa, demi untuk menambah ilmu sebagai bekal keterampilan saat pulang ke tanah air.
Banyak kisah dari teman-teman PMI, setelah pulang ke Indonesia tidak tahu harus membuka usaha apa. Mereka tidak membekali diri dengan ilmu, pengetahuan dan keterampilam untuk mengikuti persaingan di Indonesia. Kebutuhan setiap hari harus dipenuhi, tetapi pemasukan tidak ada. Sehingga setiap hari menggunakan uang tabungan dari Taiwan. Sehingga saat tabungan habis, mereka harus Kembali bekerja meninggalkan kampung untuk pergi merantau lagi.
Kenyataan ini juga yang membuat saya berpikir ulang untuk meninggalkan Taiwan, terlebih saat ini dimasa pandemic. Program master yang saya ambil masih membutuhkan biaya, terlebih ini baru selesai semester pertama, Biaya kebutuhan anak dan orang tua di kampung halaman: semuanya harus saya pikirkan. Butuh kesiapan mental dan investasi dana untuk memulai hidup di Indonesia.
Untuk itu, saya selalu belajar dan belajar untuk mendapat ilmu pengetahuan agar kelak menjadikan modal tambhan setelah pulang. Termasuk di Hive ini. Di sini saya belajar dari teman-teman, bagaimana menjadi creator konten yang baik. Karena belajar tidak hanya saat di bangku formal, tetapi juga di berbagi tempat.
Sekian dulu postingan saya kali ini, terima kasih sudah membaca cerita saya sebagai WNI di negeri orang. Semoga rekan-rekan Hive dan kita semua senantiasa diberi kesehatan dan kemurahan rezeki, serta dimudahkan dalam segala hal.