H-1 perayaan Hari raya IMLEK, saya diberi Amanah sebagai salah satu pembicara di webinar yang diadakan Akademik UT Taiwan dan Universitas Terbuka Taiwan dengan tema “Bekerja Sambil Kuliah, Kenapa Tidak?” dalam acara yang dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom meeting tersebut dihadiri juga Kepala KDEI Taipei Bapak Budi Santoso, Ketua PPLMN UT Layanan Luar Negeri Bapak Pardamean Daulay Kepala PWNI Pensosbud KDEI Taipei Bapak Fajar Nurhadi dan Ibu Eva Odameng.
Sejak pagi hari Minggu 30, Januari saya bergegas melakukan pekerjaan sepanjang hari hingga sore. Menjelang Imlek, mayoritas pekerja migran informal di sibukan oleh rangkaian persiapan dan bersih-bersih rumah, begitupun saya. Mengalami hal serupa. Niat hati masak untuk makan malam lebih awal, agar semua segera selesai dan memersiapkan diri, karena pukul 19.45 para pembicara dan peserta webinar diminta standbay di tempat masing-masing untuk memulai acara.
Namun siapa sangka, nenek yang kujaga malah drama, pukul 17.00 sore minta diantar ke salon untuk potong dan cuci rambut, karena imlek anak perempuan dan cucu-cucunya pulang ke rumah untuk makan dan bagi hong pau. Ia tidak ingin terlihat kusut dan tidak terawat.
Well, dengan di antara Mersedez hitam pulus, kami pun meluncur ke salon langganan yang tidak jauh dari rumah. (Noted: nenek berumur 101 tahun, sehingga tidak kuat berjalan pulang pergi. Namun ia masih sehat dan bisa berjalan).
Sembari menunggu beliau, saya pun membaca buku yang kubawa seperti biasanya. Sesekali melihat PPT materi, yang telah saya persipakan untuk nanti malam. Pukul 17.50 semua selesai, aku menelepon boss minta jemputan. Sengaja saya tidak mau mencari taksi, karena di pada epidemi, boss tidak membiarkan kami menggunakan angkutan umum, untuk lebih safety.
Sesampai di rumah, sudah seperti kibasan kipas yang berputar, mulai dari memandikan nenek, masak makan malam, memersiapkan hidangan, hingga membereskan dapur dan buang sampah. Tepat pukul 20.00 baru selesai.
Tangkapan layar dari peserta setelah mengikuti webinar
Terdengar denting WA dari gadget merah yang kutinggalkamn di kamar. “Mba Etty, kami tunggu bergabungnya ya. Webinar sudah mulai :)”
Tanpa harus mandi, segera kupersiapkan ala kadarnya. Semua materi yang disiapkan buyar, karena tergesa-gesa. Saat membuka laptop untuk bergabung dengan link zoom yang telah dibagikan. Wadidaw … semua peserta sudah rapi di layar tampilan. Terdapat 150 lebih peserta yang mengikuti webinar. Staf KDEI, dan beberapa pengurus UT Pusat, juga hadir. Teerlihat Ibu Dina, beliau yang membantu saya saat drama untuk mengajukan wisuda di Taiwan.
“Mba, setelah sambutan ini, mohon Mba Etty ngisi materi ya? Kita majukan, agar tidak terlalu malam selesai.” Pesan dari Ketua Bapel memberi tahu.
Pukul 20.30 saya memberi materi dengan judul “Bekerja dan Meraih Gelar Sarjana. Pasti Bisa!”. Pada moment tersebut, saya berbagi pengalaman dan capaian apa saja yang saya dapatkan sebagai mahasiswa UT Taiwan. Bagaimana tantangan dan kesulitan saat menjalani perkuliahan. Hingga dapat menoreh prestasi dan beasiswa dari UT Pusat. Tidak lupa juga, berbagi tips belajar di UT Taiwan, diantaranya Mandiri, Disiplin, Menjadi Diri Sendiri, Kreatif dan Dedikasi.
Alhamdulilah meskipun beberapa poin, saya jelaskan secara otodidak, semua peserta menyimak dengan baik. Terbukti dari ruang chat, rekan-rekan dapat menjawab Quis seputar materi yang saya sampaikan.
Qoute: untuk memotivasi teman-teman PMI dalam meraih pendidikan
Sebuah closing statemen saya berikan “ Jangan Pernah Menyerah dengan Segala Kesulitan. Teruslah Berjuang. Karena Saat memulai sesuatu, pastikan kit akita harus mengakhiri dengan titik yang terbaik”
Kesan istimewa saat webinar adalah, saat berbalas pantun secara otodidak dengan Bapak Pardamean Daulay, dan MC acara:
Membeli Mangga naiki delman
Beli Terasi lewat perempatan
Saya bangga menjadi alumni UT Taiwan
Mendapat prestasi, gelar dan cuan
Semoga semakin banyak teman-teman pekerja Infonesia yang tergerak hatinya untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan. Sehingga kelak, saat pulang ke tanah air, yidak hanya membawa uang, tetapi juga ilmu pengetahuan untuk bekal berusaha di tanah air, agar kelak tidak perlu pergi lagi sebagai pekerja migran.
Sekian dulu postingan saya kali ini, terima kasih sudah membaca cerita saya sebagai WNI di negeri orang. Semoga rekan-rekan Hive dan kita semua senantiasa diberi kesehatan dan kemurahan rezeki, serta dimudahkan dalam segala hal.