Selamat dan sukses selalu semoga menyertai hari pembaca yang budiman di mana pun anda berada.
Dipostingan saya kali ini akan menceritakan kejadian kecil yang terjadi di sekitar kita, perlakuan tak baik demi tujuan, demi kepentingsn, demi ketenaran penyuruhnya bisa pribadi, golongan, atau sekolah yang ingin punya murid banyak.
Memang perlakuan ini, kesalahan ini dilakukan murni karena pekerjanya, yang menganggap enteng dan sepele.
Pikiran pengrusakan komponen alam ini kadang kita anggap wajar karena obyeknya hanya diam. Dan kita mengabaikannya.
Tapi tidak bagi saya kepentingan mereka yang ditujukan ke penglihatan saya, atau bahasa kasarnya mencolokkan ke mata saya harus ikuti prosedur saya, tak boleh merusak menganiaya milik saya.
Dari judul di atas mengandung unsur dua kata benda padat yang berlawanan.
Dua kata yang kejam, paku kategori senjata pohon kategori korban. Seperti pembunuhan yang terencana.
Kejadian perusakan ke pohon akan marak setiap 5 tahun sekali, bahkan untuk ketenaran nama sekolah atau nama lembaga memasang iklam dipohon harus mereka lakukan. Memang pohonnya hanya diam dan pasrah harus menerima paku lebih dari satu di batangnya, kenapa saya harus mengunggahnya?
Mungkin kalau pohon bisa bicara, dia akan nangis karena tancapan paku yang berdiam ditubuhnya tak dicabut di biarkan bertahun tahun. Bisa dipraktikan, seandainya badan kita tertusuk duri kecil yang lama bertahun-tahun, apa rasanya?
Saya bukan duta besar pohon, tapi saya prihatin dengan nasib pohon-pohon yang ada di pinggir jalan
Pohon yang ditanam untuk keteduhan, untuk keindahan bahkan kelak kalau pohon sudah besar bisa di gunakan pembangunan rumah. Harus rusak seratnya karena ulah mereka. Betul kan?
Aku pernah debat dengan mereka, aku tidak terima perlakuan mereka yang memaku pohon peliharaan saya. Aku cabut apa yang mereka anggap benar.
Aku tak peduli, ini hak saya! pohon rakyat saya! saya harus melindungi dan merawatnya.
Kepada mereka tetap aku persilahkan bahkan kalau rumahku di penuhi gambar tuannya, aku tak mempermasalahkannya. tapi cara mereka mempromosikan tuannya, tidak harus merusak tanaman saya.
Kurang arif menurut saya hanya demi sedikit cuan yang mereka dapat harus merusak milik orang lain.
Mereka hanya melancarkan aksinya mereka tidak mau tahu apa maksud si penanamnya.
Apa tidak ada cara lain selain menyakitinya?
Misal dengan mengikat pakai kawat, kenapa tak mereka lakukan?
Bukankah lebih bijaksana kalau dua kepentingan yang berbeda bisa berjalan bersamaan?
Sekian dan semoga bermanfaat,
Terima kasih
Jumat, 08 april 2022
Bekasi, Indonesia