MEMBATU (1)
"Pergi! Pergi! Aku tak sudi punya anak durhaka!"
Anak muda itu pergi. Setelah ibunya mengusir dari rumah, karena dia tidak patuh. Dia terlalu mencintai perempuan itu, gadis yang selalu hadir dalam mimpinya.
Beberapa hari setelah anaknya pergi, sang ibu merasa rindu. Mencoba mencari kian kemari. "Maafkan ibu, anakku. Ibu tak sungguh-sungguh marah padamu. Dimana engkau anakku? Dimana? " Sang ibu menatap patung batu di taman yang serupa wajah anaknya dahulu.
MEMBATU (2)
"Patung terindah, dan paling mirip dengan obyeknya yang pernah saya lihat. Selamat anda pematung hebat. Luar biasa."
Tak pernah dia bayangkan pemilik galeri akan memujinya. pematung itu tetap diam, mematung.
Dia mengecor tubuhnya di dalam galeri, sejak sebulan lalu.