Hello Hive'r
Indonesia
Menangkat ikan air tawar atau dalam bahasa Aceh di sebut dengan mita eungkot paya atau eungkot lueng sudah menjadi tradis di kalangan anak muda di tempat tinggal saya. Kegiatan ini di lakukan oleh kalangan pemuda dilakukan secara berkelompok, kalaupun ada orang yang tua - tua datang hanya sebagai pemonton atau hanya sekedar untuk melihat kegiatan tersebut.
English
Raising freshwater fish or in Acehnese called mita eungkot paya or eukkot lueng has become a tradition among young people where I live. This activity is carried out by young people in groups, even if there are old people who come only as spectators or just to see the activity.
Indonesia
Dinamakan mita eungkot paya atau eungkot lueng (menacari ikan rawa atau ikan sungai) karena lokasi menangkap ikan - ikan tersebut di dalam rawa - rawa atau sungai yang terletak di seputaran desa tempat pemuda tersebut tingga. Kegiatan mencari ikan ini melibatkan banyak orang, pemuda bahkan ada juga anak - anak yang ikut dalam kegiatan tersebut.
English
Named mita eungkot paya or eungkot lueng (looking for swamp fish or river fish) because the location for catching these fish is in swamps or rivers located around the village where the young man lives. This fishing activity involves many people, young people and even children who take part in these activities.
Indonesia
Mita eungkot paya atau eungkoet lueng ini bisa di bilang sudah ada sejak nenek moyang mereka dulu atau sudah turun temurun, bedaknya dulunya untuk mengeringkan atau membuang air dari dalam rawa dan sungai menggunakan amak. Amak merupakan sebuah alat tradisional yang di buat menggunakan bahan dari daun pinang yang dibentuk menyurupai timba, cuman amak berbentuk empat segi serta menggunakan dua buah tali sarabut kepala atau tali bulu aren. Tali tersebut sebagai pegangan untuk mengeringkan air. Berbeda jauh dengan jaman sekarang,mengeringkan air menggunakan mesin pompa air. Setelah air kering ikan - ikan mulai nampak dan beberapa orang turun mengambilnya.
English
Mita eungkot paya or eungkoet lueng can be said to have existed since their ancestors first or has been passed down from generation to generation, the powder used to be used to dry or remove water from swamps and rivers using amak. Amak is a traditional tool made using materials from areca nut leaves which are shaped like a bucket, only the amak is rectangular in shape and uses two head fiber ropes or palm hair ropes. The rope is used as a handle to dry the water. Much different from today, to dry water using a water pump machine.After the water dries up, the fish begin to appear and some people come down to pick them up.*
Indonesia
Ikan - ikan yang sudah terkumpul bukan untuk dibagikan kepada orang - orang yang menangkap ikan tersebut,namum dibawa pulang ke balai desa, dibersihkan, dimasak dan dimakan bersama masyarakat yang hadir pada saat ikan - ikan tersebut sudah dipersiapkan. Biasanya ikan - ikan tersebut dimasak pada malam hari.
English
The fish that have been collected are not to be distributed to the people who catch the fish, but are brought back to the village hall, cleaned, cooked and eaten with the people who were present when the fish were prepared. Usually the fish are cooked at night.
Indonesia
Hanya sekian postingan saya tentang aktivitas mita eughkot paya atau eungkot lueng yang merupakan sebuah tradisi unik yang ada di kalangan pemuda Aceh, khususnya kecamatan Simpang Tiga, Pidie, Aceh, semoga sahabat menyukaianya.
English
These are just my posts about the activity of mita eungkot paya or eungkot lueng which is a unique tradition that exists among Acehnese youth, especially the Simpang Tiga sub-district, Pidie, Aceh, I hope you like it.
Regards 