Di pagi yang menetas dari rahim embun,
sunyi bukan sepi—tapi kidung alam,
langkah sapi mendaki waktu perlahan,
menyibak kabut seperti doa pulang.
Sawah merentang bagai kitab terbuka,
setiap barisnya puisi hijau kehidupan.
Petani—pujangga tanpa pena—
menulis harapan dengan cangkul dan peluh.
Anak-anak berlarian di jalan tanah merah,
berbekal tawa dan layang-layang langit,
sedang waktu menggulung lembut
seperti tikar tua yang tak lelah menanti duduk.
Ibu-ibu memanggil pagi lewat uap dapur,
menanak rindu dalam kukusan bambu.
Ayam berkisah, angin menjawab,
hidup mengalir tanpa perlu terburu.
Malam turun dengan wajah tenang,
lampu minyak berkelip serupa bintang,
dan suara jangkrik mengaji gelap
dalam bahasa yang tak perlu ditafsir.
Di desa, hidup bukan lomba—
ia pelukan panjang dari bumi ke dada.
Segalanya cukup, segalanya dekat,
dan damai, adalah nama yang tetap.