SEPERTINYA penderitaan masyarakat Indonesia akan lebih berat ke depannya. Baru keluar dari beban berat, sebagai dampak dari Covid, kini perekonomian masyarakat akan digulung oleh kenaikan harga-harga barang.
Berawal dari batalnya penurunan harga minyak goreng, kini pemerintah juga sudah menaikkan harga elpiji. Bahkan yang selama ini menjadi andalan masyarakat miskin, versi tiga kilogram pun akan mengalami kenaikan.
Kabar terbaru, harga BBM juga naik yang akan berdampak pada meningkatnya biaya angkut semua bahan makanan.
Dari Jakarta, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono bahkan mengatakan ada sejumlah kebutuhan harian lainnya yang akan naik. Selain minyak goreng, cabai merah, daging, dan telur ayam juga bakal naik.
Bayangkan di tengah bulan puasa dan menghadapi Ramadan yang memang membutuhkan cadangan keuangan ekstra, kini masyarakat dihadapkan lagi pada tingginya barang-barang kebutuhan harian.
Bagi sebagai masyarakat berpenghasilan tinggi, mungkin hal ini tidak terlalu menjadi beban. Tapi sebaliknya bagi kaum marjinal atau kaum proletar, kondisi seperti ini tentu saja menjadi pukulan berat.
Pasalnya selama Covid menyerang, banyak yang kemudian di PHK dan kehilangan pekerjaan. Tak sedikit yang harus menutup tempat usaha karena merugi akibat sepi pembeli.
Belum lagi di tambah dengan bencana alam seperti banjir dan gempa. Lengkap sudah penderitaan mereka.