SUATU kali saat hendak menuju ruang keberangkatan di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten saya menemukan ilusi sebuag gambar petugas bea cukai. Petugas perempuan ini mmberi informasi penting kepada penumpang pesawat yang melintas di depannya.
Namun meski merupakan gambar dari seorang pegawai, tetapi yang berbicara di situ hanya sebuah produk artificial intelligence.
Wajah, tubuh dan suara yang muncul dari alat tersbeut memang milik seseorang yang nyata adanya. Tetapi objek yang berbicara saat itu tidak nyata. Hanya dari sebuah perangkat yang memantulkan cahaya seperti infokus.
Itulah salah satu hasil kerjaan para ahli dalam bidang artificial intelligence.
Hal yang sering kita lakykan dan viral beberapa waktu lalu adalah membuat wajah orang tampak lebih muda atau lebih tua di aplikasi Faceapp. Itu juga hasil dari sebuah artificial intelligence.
Dengan artificial intelligence sekarang bahkan mudah bagi seseorang untuk menggantikan narasi yang diucapkan seseorang.
Misalnya seorang presiden sedang pidato. Dalam video tersebut sebenarnya isi pidato sudah diubah. Tapi yang kita dengar adalah suara asli sang presiden, wajahnya juga asli. Yang diubah adalah narasinya.
Banyak ahli telematika dan informastika bahkan sulit membedakan mana video asli dan mana yang sudah diedit dengan menggunakan artificial intelligence.
Ke depan hal semacam ini akan terus berkembang. Agar kita tak semakin ketinggalan, sepertinya kita juga perlu untuk sedikit belajar.
Untuk apa? Agar kita tak terperangkap pada seliweran informasi. Kita kira asli, ternyata palsu alias hoax.