BANYAK dari kita yang lupa terkait esensi kita diperintahkan untuk berpuasa. Karena itu, puasa kerap tidak memberi bekas atau kesan yang dalam setelah sebulan penuh kita melakukannya.
Saya sendiri merasa apa yang saya lakukan selama bulan puasa belum mencapai titik paling esensi atau paling penting.
Puasa sejatinya melatih kita untuk mamapu menahan diri atas segala hawa nafsu. Puasa juga harus membuat rasa prihatin kita kepada yang hidup di bawah kehidupan kita lebih tajam dan tebal.
Namun faktanya, pada bulan puasa kita hanya menahan diri pada sian hari. Buktinya pengeluaran kita pada bulan uasa justru berkali lipat dari bulan-bulan sebelumnya.
Jika memang puasa untuk mengendalikan diri, bagaimana mungkin kita menjadi buas pada sore harinya? Semua yang kita lihat terasa nikmat dan lezat.
Bahkan ada yang bercanda mengirimkan foto potongan kayu yang katanya mirip wafer.
Banyak makanan yang kemudian kita beli karena nafsu kita begitu besar, hingga membuat pengeluaran selama tiga puluh hari itu membengkak.
Padahal jika kita sadar bahwa kita sedang dilatih untuk menahan diri, semestinya itu tak pernah kita lakukan sejak hari pertama hingga hari terakhir kita berpuasa.
Demikian juga setelah Ramadan berlalu, kita menjadi pada kehidupan seperti biasa. Tidak menjadi pribadi yang lebih peka terhadap yang lain.