ANGIN berembus pelan ketika langit di kaki Gunung Semeru tiba-tiba memerah. Suara gemuruh yang awalnya jauh, pelan-pelan berubah menjadi dentuman berulang yang membuat kaca jendela bergetar. Dalam hitungan menit, warga berhamburan keluar rumah — sebagian hanya mengenakan pakaian seadanya, sebagian menenteng tas kecil, sebagian menuntun anak yang menangis ketakutan. Abu mulai turun, seperti salju kelabu yang panas dan menyesakkan.
Di antara kerumunan yang berlari menuju titik kumpul, seorang ibu muda menggenggam tangan putrinya dengan erat. Suaminya mendorong sepeda motor tua mereka, membawa selimut, sedikit makanan, dan surat-surat penting yang sempat disambar dari lemari. Ia menatap ke belakang, ke arah rumah kecil mereka yang samar tertutup kabut abu. Dalam hatinya, ia bertanya: apakah besok rumah itu masih ada?
Balai desa yang menjadi tempat pengungsian penuh sesak. Di sana, wajah-wajah lelah berbaris di lantai beralas tikar, anak-anak menangis karena panas, lapar, atau ketakutan. Para lansia duduk bersandar ke dinding, menahan batuk akibat debu yang masih mengiritasi tenggorokan. Seorang lelaki tua duduk di sudut ruangan, memegangi foto keluarga yang warnanya mulai pudar. Di foto itu, ia dan istrinya berdiri di depan rumah kayu yang pernah mereka bangun dengan tangan sendiri. Kini rumah itu tertutup abu, sebagian atapnya runtuh. Ia mengusap pojok foto dengan perlahan, seolah menyeka debu yang tak tampak, dan matanya berkaca-kaca.
Beberapa warga mengalami luka bakar akibat awan panas. Wajah dan tangan mereka diperban seadanya. Sebagian yang lain tidak terluka secara fisik, tetapi matanya merah dan sesak napas karena debu yang tebal. Setiap kali malam tiba, batuk terdengar bersahutan. Di sisi lain balai desa, seorang remaja perempuan duduk bersandar sambil memegangi dadanya. Matanya perih, hidungnya tersumbat, dan suaranya parau. Masker medis yang ia pakai sudah kotor, tetapi ia tidak punya cadangan. Meski begitu, ia terus tersenyum setiap kali ada relawan datang membawa makanan hangat.
Meski keadaan berat, ketabahan dan kebersamaan terus tumbuh. Dapur umum didirikan, asap wajan penggorengan mengepul sejak pagi hingga malam. Relawan membagikan makanan, selimut, dan air bersih kepada siapa pun yang membutuhkan. Di halaman balai desa, para pemuda bekerja tanpa henti. Mereka membersihkan jalan dari timbunan abu, memperbaiki tenda yang rusak tertiup angin, dan mengantar lansia ke pos kesehatan terdekat. Salah satu di antara mereka berkata lirih sambil mengangkat ember berisi abu: “Apa pun yang terjadi, ini kampung kita. Harus kita jaga.” Di malam hari, seorang tokoh masyarakat mengajak seluruh pengungsi berdoa bersama. Suaranya tenang, meski gemuruh gunung sesekali terdengar. Semua orang menunduk, memohon agar bencana segera mereda dan kehidupan kembali seperti sedia kala.
Beberapa hari kemudian, ketika kondisi sedikit mereda, warga diperbolehkan kembali ke kampung mereka untuk mengambil barang-barang penting. Mereka berjalan pelan melewati jalan yang tertutup abu, menatap rumah-rumah yang berdiri tanpa warna — kelabu, sunyi, dan asing. Ibu muda itu kembali bersama suaminya. Pintu rumahnya terlepas dari engsel, lantainya tertutup debu setebal lengan. Ia berjalan pelan, memungut bingkai foto keluarga yang terjatuh. Saat membuka laci, ia menemukan surat kelahiran anaknya yang masih utuh. Wajahnya menegang sejenak, lalu ia menahan tangis sambil tersenyum tipis. Seolah-olah, dari semua hal yang hilang, kenangan itu masih bisa diselamatkan.
Di malam-malam berikutnya, ketika para pengungsi tidur berdekatan di bawah cahaya redup lampu darurat, terdengar suara anak-anak bermain dan tertawa kecil. Meski tempat terbatas dan udara panas, mereka tetap menemukan cara untuk bahagia: bermain kejar-kejaran kecil, menggambar dengan krayon pemberian relawan, atau saling berbagi makanan ringan.
Para orang tua memandang mereka dengan mata berkaca-kaca. Ada ketakutan, ada kehilangan, tetapi di balik itu semua ada secercah harapan. Seorang pemuda duduk di luar pos pengungsian, memandang siluet Semeru yang gelap. Di tangannya ada kertas penuh coretan — rencana membangun kembali rumah, menanam lagi di kebun, memperbaiki jalan desa. Ia menarik napas panjang dan berembus perlahan ke udara yang dingin.
Gunung bisa marah, pikirnya, tapi manusia selalu punya cara untuk bangkit. Dan di tengah abu yang masih menutupi tanah, harapan itu tak pernah benar-benar padam.