Saban pagi Jumat, saya kerap memesan kopi arabika bikinan mesin ditambah sedikit susu. Sanger, sebutan pendeknya. Nama kedainya Pondasi Pagi, pemilik dan pekerjanya sudah menjadi teman saya. Bahkan beberapa pelanggan tetap sudah akrab dengannya. Saya jarang semeja sendirian.
Pagi ini juga demikian, kendati kedai sepi pelanggan saya tetap punya teman obrolan, pramusaji yang sedang nganggur selalu punya cerita. Duduk semeja dengan saya, ia punya banyak hal untuk diceritakan, acapkali tentang keluh kesah yang didengarnya dari pelanggan lainnya.
Wacana yang paling dominan adalah permasalahan klasik tentang uang. Ada juga masalah politik, ekonomi, agama, olahraga, juga tak luput persoalan gosip rumah tangga. Saya hanya menyimak saja, cerita-cerita yang sampai di telinga saya, bukan urusan saya untuk diteruskan ke orang lain. Memikirkan masalah orang lain, bukan masalah saya.
Pondasi Pagi, seperti banyak kedai di kota kelahiran saya Matangglumpanguda, menyediakan kopi robusta saring seharga tiga ribu percangkir, sama dengan harga kopi sasetan lainnya. Sebiji kue basah seharga seribu rupiah. Rokok tak dijual eceran, juga tak dibolehkan paylater. "Hutang membuat celaka dan perkara," kata pemiliknya.