Sepeda merek Phoenix ini dulunya sering dipakai mendiang Ayah ketika hendak ke pasar atau warung kopi. Saya masih ingat pada 2007, suatu ketika yang nahas, Ayah ditabrak pengendara sepeda motor, ketika hendak menyebrang jalan dengan sepeda Phoenixnya. Pagi itu saya tak jadi ke sekolah, menumpang mobil yang tak saya kenal pemiliknya, saya melarikan Ayah yang setengah sadar ke rumah sakit daerah di Bireuen. Beberapa hari di rawat Ayah pulih dan pulang.
Itulah ingatan yang tak pernah saya lupa tentang ayah dan sepeda phonenixnya. Pada 2014 ayah meninggal dunia. Alfatihah.
Sepeda minion milik saya
Kini, sepeda yang sudah karatan itu, sering saya pakai ketika hendak mau minum kopi di warung yang tak jauh dari rumah. Beberapa waktu lalu sepeda minion—banyak menyebutnya begitu—menjadi primadona anak muda. Banyak sepeda minion usang dimodifikasi sedemikian rupa, menjadi sepeda yang tampak trendi, dicat ulang, aneka suku cadang ditambah, intinya tampak seperti sepeda kekinian.
Saya tak tertarik memodifikasi sepeda minion punya saya. Tak sedikit yang bertanya dan menyarankan untuk saya permak. Jawaban saya tetap sama, untuk apa? Buang waktu dan uang saja. Selama masih dapat didayung, sudah cukup bagi saya. Toh akhirnya, yang ikutan modif itu, ujung-ujungnya berakhir di gudang juga.