Creative Minority is a student organization at Malikussaleh University, Aceh, Indonesia. While I was still teaching there, I was asked to become one of the advisors for Creative Minority.
However, since 2023, I have been a member of the Lhokseumawe City Election Supervisory Board, so I cannot be active in any organization, including student organizations.
Not being an advisor doesn't mean I can't be active in this student organization. I can still participate in various activities relevant to my abilities, especially those related to writing.
I recommend that student activists who are members of the Creative Minority (CM) get involved in various internal competitions at Malikussaleh University; CM members are required to participate. Some regular competitions include short story writing, poetry writing, articles, poetry readings, and several others.
In these internal campus competitions, such as the Literary Festival held by students of the Faculty of Teacher Training and Education, I serve as a judge. I often suggest to Dr. Hadi Iskandar, one of CM's most active mentors, that internal campus activities serve as a preliminary selection for external activities, such as the Regional Student Arts Week (Peksimida). One of the FKIP students I mentor at Malikussaleh University won the Aceh championship and qualified for the Peksiminas competition in the short story writing category.
Before advancing to regional and national events, students must first mature at the campus level. They must become accustomed to a fierce competitive atmosphere so that when they compete at the provincial and even national levels, they are prepared.
I disagree with sending participants to various competitions who are close to their professors but lack the skills.
Writing in the Midst of AI Technology
Writing amidst advances in artificial intelligence technology is a significant challenge. AI advancements are considered to be replaceable by AI. AI is no longer considered a tool, but has become a reliable necessity.
Is this true?
I am among those who don't dismiss AI as taboo and don't rely on it for writing. I still rely on my own writing abilities. AI remains a tool to confirm things, not the primary objective.
Writing is a creative endeavor, one that involves emotion, and therefore cannot be replaced by intelligent machines. Even if AI is capable of producing far more beautiful writing than human work, writing skills are still needed to ensure humans continue to think and feel.
So, writing is a profession that preserves humanity.[]
Membangun Budaya Menulis Bersama Creative Minority
Creative Minority adalah salah satu organisasi kemahasiswaa di Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia. Ketika masih aktif mengajar di kampus tersebut, saya diminta menjadi salah satu pembina di Creative Minority.
Namun, sejak 2023 saya menjadi anggota Badan Pengawas Pemilu Kota Lhokseumawe, saya tidak bisa aktif di organisasi mana pun, termasuk kemahasiswaan.
Tidak menjadi pembina, bukan berarti tidak bisa aktif di organisasi kemahasiswaa tersebut. Berbagai kegiatan yang relevan dengan kemampuan saya, saya masih bisa terlibat di dalamnya, terutama menyangkut dunia tulis-menulis.
Pegiat mahasiswa yang tergabung dalam Creative Minority (CM), saya sarankan untuk terlibat dalam beberapa perlombaan internal kampus Universitas Malikussaleh, anggota CM harus terlibat. Beberapa lomba yang rutin dilakukan adalah menulis cerpen, menulis puisi, artikel, baca puisi, dan beberapa yang lain.
Dalam perlombaan internal kampus tersebut seperti dalam Festival Sastra yang digelar mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, saya menjadi salah seorang juri. Saya sering menyarankan kepada Dr Hadi Iskandar, salah seorang pembina CM yang paling aktif, kegiatan di internal kampus menjadi seleksi awal bagi kegiatan eksternal, seperti Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida). Salah satu mahasiswa FKIP Universitas Malikussaleh yang saya bina, menjadi juara Aceh dan berhak mengikuti event lomba Peksiminas dalam kategori lomba penulisan cerpen.
Sebelum maju ke event daerah dan nasional, mahasiswa harus matang dulu di tingkat kampus sendiri. Mahasiswa harus terbiasa dalam suasana kompetisi yang ketat, sehingga ketika mereka hadir dalam lomba di tingkat provinsi bahkan nasional, mereka sudah memiliki persiapan.
Saya tidak setuju peserta yang dikirim ke berbagai lomba adalah mahasiswa yang dekat dengan dosen, tetapi tidak memiliki kemampuan.
Menulis di tengah teknologi AI
Menulis di tengah kemajuan teknologi artifisial intelegensi, menjadi tantangan berat. Kemajuan AI dianggap bisa digantikan dengan AI. AI tidak lagi dianggap alat bantu, tetapi sudah menjadi kemutlakan yang bisa diandalkan.
Benarkah demikian?
Saya termasuk aliran manusia yang tidak menabukan AI sekaligus yang tidak mengandalkan AI dalam menulis. Saya tetap mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menulis. AI tetap alat bantu untuk mengkonfirmasi berbagai hal, bukan yang utama.
Menulis adalah pekerjaan kreatif, pekerjaan yang melibatkan rasa sehingga tidak bisa digantikan mesin pintar. Meskipun nanti AI mampu melahirkan tulisan yang jauh lebih indah dari kerja manusia, kecakapan menulis tetap dibutuhkan agar manusia masih tetap berpikir dan merasa.
Jadi, menulis adalah pekerjaan menjaga kemanusiaan manusia.[]