I refuse to wait for the moon to change
to collect the sounds intertwined in the air
The old calendar still hangs in my heart
with a painting without a canvas, carving your smile
which in the past months
you had transferred to the curve of my lips
then became our smile
The same numbers carved in silence
but the day has passed
tonight we write a story in the sky
about teenagers who spill their tales at the market of voices
in front of cruel pirates
or pirates of one night's warmth
Who knows who can read the book of voices
throughout the four-hour journey
we have built memories
from sounds arranged in a time machine
Lorong Asa, 2025
The poem above is included in an anthology titled WARNA KITAB SUARA. This anthology of Elections and Democracy is a book published by the Elections Supervisory Agency (Bawaslu). It contains 88 poems from a poetry writing competition held by the Bawaslu of Kulon Progo Regency, Central Java (Indonesia), to commemorate the 7th anniversary of the Bawaslu Regency/City and the 80th anniversary of Indonesian independence.
The poetry competition received 134 poems, which were then curated by a panel of judges consisting of Marwanto (Chairman of the Kulon Progo Bawaslu), Fajar Pramukti (Head of the Kulon Progo Bawaslu Secretariat), and Fajar Ayuningtyas (Kulon Progo Literary Community). Of the 134 entries, 88 were selected and deemed worthy of publication in this anthology.[]
Kitab Suara
aku menolak penantian bulan berganti
untuk memungut suara yang berkelindan di udara
kalender lama masih tergantung di hati
dengan lukisan tanpa kanvas mengukir senyummu
yang pada bulan-bulan silam
sempat kau pindahkan pada lekuk bibirku
lalu menjadi senyum kita
angka yang sama terpahat sepi
tapi hari sudah berlari
malam ini kita menggores cerita di angkasa
tentang remaja yang menumpah kisah di pasar suara
di hadapan para lanun kejam
atau perompak kehangatan satu malam
entah siapa yang bisa membaca kitab suara
sepanjang empat jam perjalanan
kita telah membangun kenangan
dari suara yang tertata dalam mesin waktu
Lorong Asa, 2025
Puisi di atas dimuat dalan buku antologi berjudul WARNA KITAB SUARA. Antologi Pemilu dan Demokrasi ini merupakan buku yang diterbitkan oleh Bawaslu yang berisi 88 puisi hasil dari lomba penulisan puisi yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kabupaten Kulon Progo, Jawa Tengah (Indonesia) dalam rangka memperingati hari jadi Bawaslu Kabupaten/Kota yang ke 7 dan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam lomba penulisan puisi tersebut terkumpul 134 judul puisi yang kemudian dilakukan kurasi oleh dewan juri yang terdiri dari Marwanto (Ketua Bawaslu Kulon Progo), Fajar Pramukti (Kepala Sekretariat Bawaslu Kulon Progo), dan Fajar Ayuningtyas (Komunitas Sastra Kulon Progo). Dari 134 judul puisi yang masuk tersebut terseleksi sebanyak 88 karya yang dinilai layak untuk dipublikasikan dalam buku antologi puisi ini.[]