Harry Poeze, sejarawan asal Belanda.
Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah pesan WhatsApp yang dikirim oleh Sigit, marketing Penerbit Pustaka Obor Indonesia. Isinya undangan terbuka Diskusi Online Bersama Sejarawan asal Belanda Harry Poeze.
Tentu saya sangat senang dengan undangan tersebut, karena seumur-umur baru kali ini saya bisa bertatap muka dengan Harry Poeze, walau secara online. Sebelumnya beberapa kali saya mendapat undangan diskusi serupa, tapi keinginan untuk ikut sebagai peserta selalu tidak bisa saya penuhi karena terkendala jarak yang jauh, acaranya selalu diadakan di Pulau Jawa (Jakarta, atau kota lain di Pulau Jawa.)
Marrik Bellen, Direktur KITLV-Jakarta.
Saya sudah lama mendengar nama Harry Poeze, dia adalah seorang Indonesianis terkemuka yang banyak melakukan riset sejarah Indonesia modern, khususnya tentang sosok Tan Malaka, Tokoh Kiri Indonesia asal Minangkabau. Awalnya Harry meneliti tentang Kisah kehidupan Tan Malaka selama bersekolah (1913-1919) lewat skripsi sarjananya pada jurusan Ilmu Politik Universitas Amsterdam, Belanda.
Tidak hanya berpuas di situ, selesai menyandang gelar Doctorandus (Drs), dia melanjutkan studi S3 pada universitas yang sama dengan melakukan riset disertasi--juga tentang Tan Malaka--yang berhasil dipertahankan dan berhak menyandang gelar doktor dengan judul Strijder voor Indonesie’s vrijheid; Levensloop van 1897 tot 1945. Disertasi Harry kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dalam dua jilid buku dengan judul: Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik: 1925-1945, yang diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti, tahun 1988.
Riset Harry tentang sosok Tan Malaka tidak berhenti begitu saja, setelah merampungkan disertasinya, dia masih tetap lanjut melakukan riset mengangkat topik tokoh Komunis tahun 1920-an tersebut dengan menulis 4 buku yang diberi judul: Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, yang berkisar dari tahun 1945 sampai 1949.
Baru-baru ini dia baru saja merampungkan bukunya yang ke 5 dengan topik yang sama, dan sejatinya akan diluncurkan bulan Mei ini, tapi karena kondisi pandemi Covid-19 kegiatan peluncuran buku tersebut urung dilakukan. Berarti, dengan buku yang terakhir (jilid 5), total sudah 7 buku yang ditulis Harry khusus mengenai riwayat hidup, perjuangan dan pemikiran Tan Malaka.
Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan KITLV-Jakarta, yang menerbitkan 5 buku Harry tersebut tidak kehabisan ide, acara peluncuran buku jilid 5 yang gagal itu kemudian dialihkan dengan membuat Diskusi Online melalui aplikasi Zoom Meeting pada tanggal 15 Mei 2020 (hari ini), pukul 15.00-16.30 WIB, dengan menampilkan pembicara Harry Poeze sendiri, mengangkat tema : "Mengkaji Warisan Politik Dan Pemikiran Tan Malaka." Diskusi online ini diikuti oleh 100 orang peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.
Terimakasih Harry Poeze, anda telah mengangkat sosok salah satu pendiri Republik Indonesia, sehingga bisa dikenal luas oleh khalayak Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke.