Saya dan Syamil.
Sayup-sayup terdengar suara tokek, saya terbangun dari tidur. Suara tokek di atas pojok loteng rumah seolah-oleh seperti dentangan jam. Di kamar tidak ada jam dinding. Saya melirik ke ponsel, waktu masih pukul 03.00 WIB. Masih ada waktu sejam lagi untuk sahur, pikir saya. Mata kembali berbaring, tapi berusaha menjaga mata agar tidak terpejam.
Juga, sayup-sayup terdengar suara iqamat. Saya terperanjat dan segera bangun, Astaghfirullah! rupanya waktu sahur sudah lewat. Oh tidak, semalam saya cuma makan mie goreng tanpa makan nasi. Perut terasa lapar, kerongkongan terasa kering karena haus.
Saya membangunkan istri, mengomel kenapa tidak membangunkan saya dan anak-anak. Istri saya tidak puasa karena sedang halangan, dia hanya menatap saya dengan rasa bersalah. Sesaat kemudian anak saya yang sulung bangun, "Aduh, kok tidak dibangunin waktu sahur?!" protesnya.
Terlelap dalam mimpi, sahur jadi lewat.
"Bagaimana mau dibangunin, Abi juga tidak ketiduran. Sahur jadi lewat. Jadilah kami hari ini puasa tanpa sahur. Anak saya yang bungsu, Maher, tidak kuat puasa karena tidak sahur. Hanya saya berdua dengan Syamil, si sulung, yang puasa.
Dengan cuaca yang lumayan panas, kami menjalani puasa tanpa sahur. Rasa lapar lebih bisa ditahan, tetapi rasa haus, itu yang paling membuat kami harus ekstra sabar.
Saya bilang ke Syamil, "kalau merasa tidak kuat, baiknya tidur aja, tidur yang banyak, nanti bangun tidur segera mandi biar segar."
"Tak apa, Bi, " sahut Syamil lemas, "Insya Allah Abang kuat kok." Hari ini, walau puasa tanpa sahur, dia membaca Al-Qur'an lebih banyak dari kemarin. Dua juz, saya saja tidak sanggup.
Tetap ngebut tilawah, walau dalam kondisi lemas.
Sore tadi istri saya membeli pizza, untuk menyenangkan hati Syamil. Porsi untuk Syamil dikasih lebih besar daripada kami bertiga, saya, istri, dan adiknya Maher.
Ketika azan magrib berkumandang, setelah meneguk segelas air putih, Syamil lansung menyerbu pizza. Tapi dia hanya sanggup menghabiskan sepotong pizza, kenyang katanya, saya melirik ke Umminya dan Adiknya, kami semua terbahak.
Lhokseumawe, 25 April 2020