On the way from Aceh Tenggara to Gayo Lues, we saw a traditional hanging titi on the side of the road. The scenery behind it which is full of green trees is also too dear to leave it alone, even though the river water below is not clear.
I imagine, if the river water below is clear and clean, the location at the hanging point offers a more seductive beauty.
We don't know the name of the location. Incidentally that hot afternoon there was no one to ask. The internet signal is also too weak to see the coordinates of the location.
I tested the strength of the hanging pin by hanging on it. Bustami Ibrahim, a photographer, took this opportunity to be interesting.
Only spent about 10 minutes there, we left the traditional suspension bridge.[]
Bergantung di titi gantung
Dalam perjalanan dari Aceh Tenggara menuju Gayo Lues, kami melihat ada sebuah titi gantung tradisional di pinggir jalan. Pemandangan di belakangnya yang penuh pepohonan hijau juga terlalu sayang jika dibiarkan begitu saja, meski air sungai di bawahnya tidak jernih.
Saya membayangkan, jika air sungai di bawahnya jernih dan bersih, lokasi di titi gantung itu menawarkan keindahan yang lebih menggoda.
Kami tidak tahu nama lokasi tersebut. Kebetulan siang yang panas itu tidak ada orang yang bisa ditanyakan. Sinyal internet juga terlalu lemah untuk melihat koordinat lokasi.
Saya menguji kekuatan titi gantung tersebut dengan bergantung di atasnya. Kesempatan itu difoto Bustami Ibrahim dengan menarik.
Hanya menghabiskan waktu sekitar 10 menit di sana, kami pulang meninggalkan jembatan gantung tradisional itu.[]