I've read a romantic quote, who knows who wrote it. Here's the sentence; loving with the mind is admiring with the heart. To admire with the heart is to love with the mind. How beautiful and meaningful, even though it can be interpreted widely from various angles.
I've searched Google for the owner of the quote, but haven't found any. So, when did I find that sentence?
If I dig back the memory in my head, only a faint memory remains. I'm not too sure, but if I'm not mistaken I read that quote on a sticker, when I was in college, maybe between 1993 - 1996. That means that when I studied at Lhokseumawe State Polytechnic, at that time it was still called State Polytechnic of Syiah Kuala University.
In the later journey, that quote stuck firmly in my memory. Not exactly the same sentence, but not substantially different.
Various experiences in life then prove that we often admire someone, be it a character who is still alive or has died. Why do we admire someone? Everyone must have their own reasons. It could be that someone we admire is hated by others. It could be, we admire this person so much that we can't see his flaws and mistakes, big and small.
Is admiration a form of intellectual love? So what is the difference between intellectual love and emotional love and even spiritual love? Do the three loves provide different pleasures?
Yes, my experience proves so, including admiring you with a thought. I have often imagined our physical closeness to be the superficial form of admiration that living things, including animals, have. As it turns out, the pleasure I get is not worth the pleasure when I admire you intellectually. Both of them give orgasm physically and mentally, the taste is of course different, and the pleasure has a different impact on the body and soul.
When asked to describe orgasm in a mental way, I find it difficult to describe it. Maybe the atmosphere is like this; Your soul is so calm, your heart is very satisfied, full of gratitude for whatever you have and what you don't or don't have.
The peak of pleasure will last a long time if you keep the love in mind. It's different from physical pleasures that disappear without feeling and without a trace, especially if you get them without love and without feeling.
Now I ask, can I admire with thought and admire with heart and love with mind and love with heart at the same time? When you read this, please provide an answer. I am waiting.[]
Mencintai dengan Pikiran dan Mengagumi dengan Hati
Aku pernah membaca sebuah kutipan romantis, entah ditulis oleh siapa. Begini kalimatnya; mencintai dengan pikiran adalah mengangumi dengan hati. Mengagumi dengan hati adalah mencintai dengan pikiran. Betapa indahnya dan penuh makna, meski bisa ditafsirkan secara luas dari berbagai sudut.
Aku sudah mencari di Google untuk mendapatkan pemilik kutipan tersebut, tetapi belum menemukan. Lantas, kapan aku menemukan kalimat itu?
Kalau aku bongkar kembali memori dalam kepalaku, hanya ingat samar yang masih tersisa. Aku tidak terlalu yakin, tetapi kutipan itu kalau tidak salah aku baca di sebuah stiker, ketika aku masih kuliah, mungkin antara tahun 1993 – 1996. Itu artinya semasa aku kuliah di Politeknik Negeri Lhokseumawe yang masa itu masih bernama Politeknik Negeri Universitas Syiah Kuala.
Dalam perjalanannya kemudian, kutipan itu melekat kuat dalam memoriku. Tidak persis sama kalimatnya, tetapi secara substansial tidak jauh berbeda.
Berbagai pengalaman dalam hidup kemudian membuktikan kita sering mengangumi seseorang, baik itu tokoh yang masih hidup maupun sudah meninggal. Mengapa kita mengagumi seseorang? Setiap orang pasti memiliki alasan masing-masing. Bisa jadi, tokoh yang kita kagumi malah dibenci orang lain. Bisa jadi, kita sangat mengagumi orang tersebut sehingga tidak bisa melihat kekurangan dan kesalahannya, besar dan kecil.
Apakah kekaguman itu sebagai bentuk dari cinta secara intelektual? Lantas apa bedanya cinta secara intelektual dengan cinta secara emosional bahkan cinta secara spiritual? Apakah ketiga cinta itu memberikan kenikmatan yang berbeda?
Iya, pengalamanku membuktikan demikian, termasuk ketika mengagumimu dengan pikiran. Aku sering membayangkan kedekatan kita secara fisik sebagai bentuk kekaguman paling dangkal yang dimiliki makhluk hidup, termasuk binatang. Ternyata, kenikmatan yang aku peroleh tidak sebanding dengan kenikmatan ketika aku mengagumimu secara intelektual. Keduanya sama-sama memberikan orgasme secara fisik dan secara batin, rasanya tentu saja berbeda, dan kenikmatannya berdampak berbeda terhadap tubuh dan jiwa.
Jika diminta menjabarkan orgasme secara jiwa, aku sulit melukiskannya. Mungkin suasananya seperti ini; jiwa kamu begitu tenang, hati sangat puas, penuh rasa syukur terhadap apa pun, terhadap yang kamu miliki dan tidak atau belum kamu miliki.
Puncak kenikmatan itu akan bertahan lama jika kamu pertahankan cinta secara pikiran tersebut. Beda dengan kenikmatan fisik yang hilang tanpa terasa dan tanpa bekas, apalagi jika kamu memperolehnya tanpa cinta dan tanpa rasa.
Kini aku bertanya, bisakah aku mengagumi dengan pikirin dan mengagumi dengan hati serta mencintai dengan pikiran dan mencintai dengan hati sekaligus? Ketika kamu membaca ini, tolong berikan jawabannya. Aku menunggu.[]