SEGALA HAL DI DUNIA punya cerita-ceritanya tersendiri. Semuanya memiliki kisah-kisah unik yang sangat memungkinkan untuk diangkat dalam satu tulisan. Atas dasar pikiran inilah aku menggali banyak cerita, lalu mencoba menuliskannya sebagai upaya bagaimana aku bisa terus belajar tentang banyak hal.
Dalam hal belajar menulis, aku ingat anjuran seorang mentor dalam satu kelas menulis tak formal untuk memulainya dengan mencoba menulis persoalan remeh-temeh yang sering kuhadapi sehari-hari. "Beranjak dari persoalan-persoalan kecil, setidaknya kau akan terbebas dari masalah 'tak ada ide' ketika hendak menulis," kata mentor lebih lanjut.
Tak ada ide memang suatu masalah paling umum dihadapi para penulis pemula. Aku salah satu di antaranya. Pertanyaan yang paling sering muncul ketika hendak memulai menulis adalah; aku mau menulis apa? Pertanyaan seperti ini tak ubahnya momok paling menakutkan yang harus kuhadapi. Ujung-ujungnya, aku tak menghasilkan sesuatu apa pun yang pantas dibaca.
Namun di sinilah alasan pembenar bahwa pelengkap dari proses belajar mandiri adalah bertanya pada ahli.
Kiat-kiat berbasis pengalaman dalam proses penemuan mereka sebelumnya setidaknya jadi semacam pengetahuan yang; bukan tidak mungkin bisa diadopsi untuk pemecahan masalah yang ada. Tentu saja pengalaman para ahli tersebut perlu penyesuaian sedemikian rupa dengan konteks yang kita hadapi.
Dan aku akan selalu berpijak pada teori tersebut untuk membunuh penyakit tak ada ide. Aku memulai menulis sesuatu dari hal yang paling sederhana. Menulis yang tampak di depan mata. Semisal bagaimana hujan yang turun deras kemarin siang memerangkapku dalam kabin mobil penumpang di sebuah halte pinggir kota.
Dalam pemberhentiannya yang singkat itu aku termangu. Kaca mobil dipenuhi tetesan hujan. Segala yang tampak di luar sana jadi blur, kabur seketika. Aku ingat, mentor dalam kelas menulis tak formal itu juga pernah bilang, "Menulis apa yang tampak di depan mata adalah cara terbaik belajar mendeskripsikan suasana. Jalan termudah melatih keterampilan menulis."
Tapi tidak hanya itu saja. Kau bisa juga menarasikan sesuatu yang terlintas dalam pikiran. Dan ketika kau tengah berteduh dari derasnya hujan adalah waktu di mana pikiran yang kau punya berseliweran kemana-mana. Mulai dari pikiran serba religius, misalnya, hingga pikiran yang paling liar yang sanggup kau pikirkan.
Aku senantiasa senang dengan berpetualangnya pikiran, sementara tubuhku terpaku pada suatu tempat. Dalam keadaan begini, aku membiasakan diri segera menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. Tanpa mau peduli, apakah yang terlintas itu berupa urusan-urusan yang tak penting untuk dipikirkan sama sekali.
Semisal, apakah hujan tengah hari bisa memancing libido para suami istri, perihal yang membuat mereka harus meninggalkan pekerjaan demi menunaikan ritual paling mengasyikkan di dunia? Astaga. Pikiranku sudah kemana-mana.
--- English Version
EVERYTHING IN THE WORLD has its own stories. All of them have unique stories that are very possible to be written. Based on this thesis, I dig up a lot of stories and then try to write them down in, an attempt to continue to learn about many things.
In terms of learning to write, I remember the suggestion of a mentor in an informal writing class to start by trying to write about trivial things that I often face in daily life. "Moving on from small things, at least you will be free from the 'no idea' problem when you want to write something down," said the mentor further.
No idea is indeed the most common problem for novice writers. I am one of them. The questions that most often arise when starting to write are; what do I want to write? Questions like these are like the scariest specter I have to face. In the end, I didn't produce anything worthy of reading.
However, this is the reason why everyone is encouraged to always ask experts, as a complement to the independent learning process.
The experience-based tips in their prior discovery process are at least some kind of knowledge; why can't we adopt it. Of course, the experience of these experts can be adapted in such a way as to the context we are facing.
And I will always stand on that theory to kill the 'no idea' disease. I started writing things from the simplest things. Writing that is in plain sight. For example, how the heavy rain yesterday afternoon trapped me in the cabin of a passenger car at a suburban bus stop.
In his brief stopping, I was stunned. The windshield was covered with raindrops. And everything that looks out there is blurred, blurring instantly. I remember, the mentor in that informal writing class also said, "Writing what is in plain sight is the best way to learn to describe the scenery. The easiest way to practice writing skills."
But that's not all. You can also narrate something that comes to mind. And when you are taking shelter from the heavy rain is the time where your thoughts are wandering everywhere. From all-religious thoughts, for example, to the wildest thoughts you can think of.
I am always happy with the adventurous thoughts, while my body is fixated on a place. In this state, I get used to immediately writing down whatever comes to mind. Without giving a damn, what comes to mind are matters that are not important to think about at all.
For example, can the rain in the middle of the day provoke the libido of husbands and wives, which causes them to leave their jobs in order to carry out the most exciting rituals in the world? Jeez. My thoughts have been everywhere.