"..dinten niki angsal pinten pak?.." tanya istriku
"..niki enten sekawan.." Jawabku
"..geh, lumayan sedoso ewu saged ngge tumbas nopo nopo.."
Dialog dengan istri mengenai penghasilan telur dari ayam kampung milik kami.
Apabila teman-teman jeli, pada postingan sebelumnya saya pernah bercerita mengenai pembuatan kandang ayam, silahkan dibaca terlebih dahulu.
Pada perkembangannya, bibit betina bertambah menjadi 5 indukan, dan 1 dere, kemudian 1 jantan. Total semuanya ada 7 ekor.
Terlihat dengan jelas dari foto-foto diatas, ada 4 telur yang terbagi di beberapa tempat (petarangan).
Tepat sebelum maghrib ada yang order keempat telurnya. Walhasil semuanya dijual. Alhamdulillah.
Harapanku, kedepan setidaknya ada 20 indukan betina dan beberapa pejantan yang mengimbangi jumlah betina.
Begitu pula dengan pakan, akan saya coba memakai pakan alternatif guna menghemat biaya, soale untuk 20 bibit itu termasuk lumayan banyak dan merepotkan dari sisi perawatan terutama pakan.
Coba kita hitung ya apabila mempunyai 20 bibit.
Untuk 1 bibit ayam kampung, dibuat maksimal maka rata-rata menghasilkan kisaran 20 telur. itu maksimal, sedangkan umumnya kisaran 10 sd 15 butir telur dalam satu bulan. Boleh dikata untuk 20 indukan akan mendapati hasil 20 ekor x 20 butir telur = 400 telur. andai dijual semua maka hasilnya 200 butir x Rp. 2.500 = 1juta rupiah hitungan kotor, karena belum biaya pakan.
Menurut kalian bagaimana?
tetap fokus telur atau ditetaskan lalu dibesarkan?