The enactment of social distancing in Indonesia began on March 15 and was marked by the stopping of the teaching and learning process, offices and also banned crowd issues. For almost three months the social distancing phase was implemented in Indonesia due to Coronavirus entering the region, people were forced to change their behavior, from avoiding crowds, working from home, learning from home, even to shopping from home through online technology.
At present Indonesia is trying to apply new normal to the community since it is almost the end of the three-month period of quarantine which was previously strictly applied. New normal is a scenario to accelerate the handling of COVID-19 in health and socio-economic aspects. The Indonesian government has announced plans to implement the new normal scenario taking into epidemiological studies and regional readiness.
The application of the new normal course will reap hope and is also inseparable from a variety of new problems in our multi-ethnic and cultural society. Countries such as China, which implemented a lockdown for three months also found that human habits changed because of COVID-19, this also affects when people enter the new normal phase.
Actually, what is new is normal and how does it affect our habits in previously unusual or familiar circumstances which are then used as standards, habits, or expectations. A small example is humans being 'forced' to switch to work and study through the internet, or the use of masks and online shopping.
In the short term, for example, the initiation of work from home (WFH) and children learning from home puts pressure on people globally to get used to IT equipment and internet connections. Proven also many applications that have increased the number of downloads to facilitate meetings such as Skype or Zoom.
As predicted, disasters are related to economic difficulties that create an increase in cybercrime. Even people who are not familiar with technology are vulnerable targets.
Even so, technology also helps in monitoring, tracking, managing the spread of the virus, and analyzing the SARS-CoV-2 virus movement data. There are even many applications that are launched to monitor health conditions.
If there was pressure in carrying out WFH or e-learning, now people are used to doing it. It's no longer a strange sight where people go to the office only 2-3 times a week and the number of working hours has decreased dramatically.
Likewise, the use of teleconferencing is common for every segment of society. Judging from the existing signs, it seems like we have entered this phase.
Aware of the accelerated digitalization of new normal conditions, the need for fast connections is what many people crave. Not to mention social interaction and more efficient shopping with social media as well as e-commerce make technology closer to us.
Not to mention the efficient work that can be forced to be pressured, inevitably it creates competition in finding work to become more difficult. But, it doesn't always mean bad, new normal can be an opportunity for those who want to open up employment opportunities utilizing increasingly evolving technology.
Furthermore, we do not yet know exactly where the effects of the COVID-19 pandemic have taken us. What is clear, is very showing that technology is increasingly playing a role in the current era, at least not just an assumption. At present, the local government is permitted to prepare new normal if their area is at a moderate level. Also supported by other government sectors that are preparing SOPs for this new normal scenario.
As the Indonesian, of course we hope for the best in the future, as I said before, we do not know for sure what direction Covid19 will be and what end it will be, we need to be vigilant in the midst of the enactment of this new normal state. Considering he is worried that the Covid19 case will appear in the second wave later, I feel the need to be vigilant, but of course, there is no need to panic excessively, make sure your family and yourself stay safe, that's all.
Pemberlakuan social distancing di Indonesia dimulai sejak 15 Maret lalu ditandai dengan dihentikannya proses belajar mengajar, perkantoran dan juga menjaga jara pada keramaian. Hampir tiga bulan fase social distancing diterapkan di Indonesia akibat Coronavirus yang memasuki wilayah tersebut, masyarakat dipaksa untuk merubah perilaku, mulai dari menghindari keramaian, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, bahkan hingga belanja juga dari rumah melalui teknologi online.
Saat ini Indonesia sedang mencoba menerapkan new normal kepada masyarakat berhubung hampir usainya masa tiga bulan karantina wilayah yang sebelumnya diterapkan secara ketat. New normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan COVID-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional.
Penerapan new normal tentu saja akan menuai harapan dan juga tidak terlepas dari ragam persoalan baru di tengah masyarakat kita yang multietnik dan kultur. Negara seperti China yang menerapkan lockdown selama tiga bulan juga menemukan kebiasaan manusia berubah karena adanya COVID-19, hal ini pun berpengaruh ketika orang-orang masuk ke dalam fase new normal.
Sebenarnya apa itu new normal dan seperti apa pengaruhnya pada kebiasaan kita dalam keadaan yang sebelumnya tidak biasa atau familiar yang kemudian dijadikan standar, kebiasaan atau ekspektasi. Contoh kecilnya adalah manusia 'dipaksa' untuk beralih bekerja dan belajar melalui internet, atau penggunaan masker serta belanja serba online.
Dalam jangka pendek misalkan, inisiasi work from home (WFH) dan anak belajar dari rumah memberikan tekanan pada orang secara global untuk terbiasa dengan peralatan IT dan koneksi internet. Terbukti juga banyak aplikasi yang mengalami peningkatan jumlah download untuk memudahkan pertemuan seperti Skype atau Zoom.
Sebagaimana diprediksi, bencana berkaitan dengan kesulitan ekonomi yang membuat peningkatan cyber crime atau kejahatan siber. Orang yang tidak familiar dengan teknologi pun menjadi sasaran rentan.
Meski begitu, teknologi juga membantu dalam memonitor, melacak, mengelola penyebaran virus, serta menganalisis data pergerakan virus SARS-CoV-2. Bahkan ada banyak aplikasi yang diluncurkan untuk memantau kondisi kesehatan.
Jika tadinya ada tekanan dalam menjalankan WFH atau e-learning, kini orang-orang terbiasa melakukannya. Sudah bukan jadi pemandangan aneh di mana orang pergi ke kantor hanya 2-3 kali dalam seminggu dan jumlah jam kerja yang menurun drastis.
Begitu juga pemanfaatan teleconferencing menjadi hal yang biasa bagi setiap segmen masyarakat. Melihat dari tanda yang ada, sepertinya kita sudah masuk dalam fase ini.
Sadar dengan digitalisasi yang dipercepat dari kondisi new normal, kebutuhan koneksi yang cepat menjadi hal yang didambakan banyak orang. Belum lagi interaksi sosial dan shopping yang lebih efisien dengan medsos juga e-commerce membuat teknologi semakin dekat dengan kita.
Belum lagi efisien pekerjaan yang dapat dipaksa untuk ditekan, mau tak mau menimbulkan persaingan dalam mencari pekerjaan menjadi lebih sulit. Tapi, tak selamanya berarti buruk, new normal bisa menjadi peluang bagi mereka yang ingin membuka lapangan pekerjaan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang.
Lebih jauhnya, kita belum tahu pasti ke mana efek pandemi COVID-19 membawa kita. Yang jelas, sudah sangat menunjukkan bahwa teknologi makin berperan di era sekarang, setidaknya bukan sekedar asumsi. Saat ini Pemerintah daerah diizinkan untuk mempersiapkan new normal jika daerah mereka berada di tingkat moderat atau sedang. Didukung pula oleh sektor pemerintah lainnya yang sedang mempersiapkan SOP untuk skenario new normal ini.
Sebagai warga Indonesia, tentu saja kita berharap yang terbaik kedepannya, seperti saya sampaikan sebelumnya, kita tidak tahu pasti arah Covid19 ini nantinya dan berakhir seperti apa, perlukah kita waspada di tengah pemberlakuan keadaan new normal ini. Mengingat dikhawatirkannya muncul kasus Covid19 pada gelombang kedua nantinya, Saya rasa waspada perlu, namun tentu saja tidak perlu panik berlebihan, pastikan keluarga dan diri anda stay safe, itu saja sebenarnya.