Cerpen: Mustafa Ismail
BELASAN tahun kehilangan jejak, Potjut menelpon mengabarkan ia sedang berada di Bandung. Yang segera terbayang di kepalaku bukan bagaimana sosok Potjut sekarang – yang mungkin makin cantik dan langsing atau justru menjadi agak gemukan -- tapi jalan-jalan kecil yang kami lalui dengan berjalan kaki, kafe-kafe yang pernah kami singgah, juga Pantai Lhoknga yang membuat kami hampir tergelincir.
Ah, sebaiknya tidak kuceritakan lagi soal itu. Tapi sungguh, banyak hal membuat aku tidak bisa melupakannya, termasuk ketika kami dikuntit oleh sejumlah orang berbeda-beda karena dianggap termasuk sosok-sosok mahasiswa berbahaya bagi penguasa kala itu. “Kita kayak orang besar, ke mana-mana pakai pengawal,” kataku suatu kali sambil melirik orang yang terus-terusan memperhatikan kami dari jauh.
Potjut langsung mencubit lenganku. “Jangan bercanda. Ia serius lho mengikuti kita. Sejak aku keluar dari kampus, ia terus berjalan beberapa puluh meter di belakangku. Ia juga naik mobil labi-labi yang sama denganku. Cuma, ia duduk di depan, di samping supir, dan aku duduk di belakang,” tutur Potjut.
“Artinya benar dong Potjut punya pengawal pribadi. Atau jangan-jangan mereka adalah orang yang dikirim orang tuamu untuk mengawasi,” ujarku menggodanya.
Tawa kami pecah.
Ia lalu menyahut, “Iya, ayahku yang menyuruh, tapi yang membayar adalah pak tua itu, ha..ha...” Potjut suka menyebut kata “pak tua” untuk menggambarkan seseorang yang sangat berkuasa dan menjadi cita-cita banyak mahasiswa untuk melawannya, termasuk kami. Ia menjadi mitos tak tergoyahkan, maka itu membuat kami makin bersemangat untuk meneriakkannya agar segera turun.
Bagi kami, melawan rezim yang represif bukan saja wajib, tapi pertaruhan citra kami sebagai mahasiswa. Kami tidak mau dikatakan sebagai mahasiswa yang le teungeut ngon jaga jika tidak melakukan apa-apa untuk mendorong perubahan. Meskipun, bagi banyak teman, hal itu dianggap sebagai langkah berisiko. Sebab, karakter daerah kami berbeda dengan di Jawa atau daerah lainnya di luar Jawa.
Tempat kami adalah daerah konflik, yang diwarnai dengan pemberontakan pada satu sisi, dan operasi militer penumpasan pemberontakan itu pada sisi lain. Tak heran, banyak di antara mahasiswa di daerah kami pada era itu terkesan takut-takut. Kami menghadapi risiko ganda. Salah-salah, bukan hanya dicap subversif atau anti-rezim, juga bisa dicap pemberontak. Nah, cap sebagai pemberontak lebih bahaya ketimbang cap subversif.
Banyak orang yang dicap atau dituduh pemberontak diambil lalu “disekolahkan” dan tidak pernah kembali. Tak jarang, mereka yang “disekolahkan” itu orang-orang tak bersalah, namun karena fitnah atau karena namanya sama dengan orang yang sedang dicari-cari. Kala itu, orang bisa menggunakan cap pemberontak untuk menyingkirkan lawan-lawan pribadinya, mulai karena masalah politik, persaingan dagang, utang-piutang, hingga dendam pribadi.
Semula aku juga agak khawatir dengan cap itu. Tapi kupikir, jika mahasiswa takut, siapa lagi yang bisa diharapkan. Potjut bahkan lebih keras lagi sikapnya: “Mau dicap subversif kek, mau dicap pemberontak kek, yang penting pak tua harus turun!”
* * *
Potjut sedang mengikuti pelatihan untuk guru-guru dari berbagai daerah di Bandung. Ini kali ketiga dia menghubungiku sejak aku tinggal di Jakarta. Sebelumnya, ketika rezim yang kami lawan itu runtuh, Potjut juga menelpon sambil menangis. “Akhirnya waktu itu datang juga. Tak sia-sia dulu kita hampir ditabrak sepeda motor orang tak dikenal karena kita aktif melawan Pak Tua,” katanya dari seberang.
Kami saling mengucapkan selamat. “Sebetulnya aku hendak ke Jakarta beberapa hari sebelum kawan-kawan mahasiswa menduduki gedung DPR, tapi ibu tidak mengizinkan. Ibu khawatir terjadi apa-apa padaku,” ujar Potjut. Ibu sampai menangis-nangis menahannya pergi. “Padahal aku ingin sekali berada di gedung DPR. Akhirnya aku hanya melakukan aksi di kampus bersama teman-teman.”
Ia juga bercerita, ketika aksi itu, ada seseorang entah siapa, menanyakan apa kabarku. “Hendra sudah enak sekarang, dia sudah bekerja di Jakarta. Harusnya adik juga mencontoh dia, cepat-cepat selesaikan kuliah lalu bekerja. Oh ya, masih sering kontak dengan Hendra?” begitu kata lelaki misterius itu kepada Potjut.
“Aku jawab saja tidak. Aku sempat menanyakan nama orang itu, tapi ia menolak menyebutkan. Katanya, yang jelas ia tahu kita dulu sangat dekat dan sering pergi bersama ke mana-mana.”
“Jangan-jangan dia termasuk yang suka menguntit kita ha..ha..”
“Mungkin. Dia sampai hafal sepeda motor tua merah Bang Jeka yang sering kita pinjam. Dia juga tahu nama ibu kosku. Bahkan ia tahu tempat aku berlangganan katering untuk makan siang. Ia juga mengaku melihat ketika kita hampir ditabrak oleh dua orang tak dikenal di dekat kampus.”
“Jangan-jangan dia yang menabrak?”
“Aku sempat mendesak begitu, tapi ia nggak ngaku.”
Pada satu malam yang lain, Potjut menelpon. Kali ini, ia mengaku sangat kangen padaku. Aku bilang, itu rayuan gombal. Mendengar itu, ia tertawa keras. Tawanya masih seperti dulu. Tawa yang sangat kukenal, tawa yang terasa begitu merdu. Seperti sebuah nyanyian yang tiba-tiba melintas di kesunyian.
“Kapan Abang main ke Bandung? Jemput aku. Aku ingin bertemu seseorang di DPR,” ujarnya di ujung telepon.
“Siapa?”
“Tidak penting kukasih tahu sekarang.”
“Sebaiknya Potjut saja yang ke Jakarta. Aku siap mengantarkan Potjut ke mana saja. Nah, saat pulang lagi ke Bandung, nanti aku antar.”
“Hmmm, bagaimana ya. Aku punya jadwal kosong Sabtu depan. Bagaimana kalau aku mengajak Evi? Masih ingat kan. Evi yang dulu kepalanya berdarah kenapa pentungan ketika kami berdemo di Simpang Lima. Dia juga jadi guru. Kami sama-sama mengikuti pelatihan di Bandung.”
“Hmm, ya aku ingat. “
“Dia itu ternyata menikah dengan Daud, kawan kita yang suka baca puisi kalau sedang demo.”
“Ya, aku tahu. Daud kan kini dipenjara karena terlibat korupsi di Dewan.”
“Dipenjara? Tapi Evi tidak cerita. Duh, aku benar-benar ketinggalan informasi.”
“Ya mana mungkin ia bercerita hal-hal semacam itu. Dia sudah dua tahun dipenjara.”
Sejenak hening. Entah apa yang dipikirkan Potjut. Mungkin dia kaget mendengar Daud dipenjara. Aku sendiri juga kaget ketika mendengar hal itu pertama kali. Bagi kami, Daud itu orang yang sangat lurus, cerdas, dan rendah hati. Ia ketua senat di fakultas tempat Potjut kuliah. Aku dan Potjut memang berbeda kampus. Daud juga suka berpuisi. Puisi-puisinya kerap dimuat di koran kampus maupun lokal.
“Tapi jangan singgung soal itu ke Evi. Pasti Evi sangat terganggu dengan kasus yang menimpa Daud,” kataku.
“Ya.”
Lagi-lagi hening.
“Halo...”
“Iya.”
Aku tidak ingat persis bagaimana pertama aku mengenalnya pada 1995. Ia hadir begitu saja. Pada satu siang, ketika aku bersama beberapa teman duduk di bangku panjang yang melingkar di bawah pohon tua, depan kantin Cempala di kampus itu, ia sedang bedebat dengan seseorang. Ia duduk di bangku menghadap ke timur bersama seseorang itu. Mereka berbicara seperti berbisik, namun tampak berapi-api.
Aku tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan. Yang jelas, kemudian yang laki-laki pergi. Sementara Potjut tetap berada di sana, duduk sendiri. Pandangannya menerawang jauh, seperti menembus ruang dan waktu. Ia seperti sedang menyusun sketsa-sketsa jalannya sendiri. Namun tak sampai lima menit kemudian, ia beranjak. Entah kemana. Aku tidak pernah mengetahuinya lagi.
Sampai pada suatu hari lain, beberapa bulan kemudian, fotonya terpampang di halaman depan sebuah koran lokal sedang memegang poster menuntut penguasa rezim turun. Ia dan teman-temannya berunjuk rasa memprotes penangkapan sejumlah mahasiswa di Pulau Jawa.
Pada hari lain, ia hadir dalam diskusi yang aku kelola bersama Jeka yang membahas isu-isu sosial dan demokrasi. Jeka, selain mahasiswa fakultas hukum, ia dikenal sebagai penulis opini di koran lokal. Beberapa kali kami punya ide bareng dan menulis opini atas nama berdua. Kelompok diskusi yang kami kelola itu menjadi salah satu tempat pematangan ide-ide untuk kami menulis.
Rupanya yang mengundang Potjut hadir di diskusi itu adalah Jeka. Peserta diskusi kami umumnya memang diundang atau diajak. Ini untuk menghindari ada sosok-sosok misterius yang tak kami kenal hadir. Sosok-sosok itu kadang berwajah mahasiswa, tapi ia bekerja untuk memasok info-info untuk penguasa. Bahkan, dengan pengelolaan diskusi demikian pun, masih saja orang-orang yang tak kami kenal ikut hadir.
Mulai saat itulah kami mulai ngobrol. Kala itulah, tanpa sengaja aku bertanya, apakah tidak dijemput oleh pacarnya. Ia pun bercerita sejak kejadian di bawah pohon tua, depan kantin Cempala di kampus itu, ia tidak pernah bertemu lagi pacarnya. “Ia tidak suka aku ikut kegiatan-kegiatan begini,” ujarnya.
Lalu, seperti kisah-kisah dalam film-film cinta, sejak itu, kami pun sering bertemu di berbagai diskusi dan kerap pulang bersama. Suatu sore, saat kami menumpang labi-labi dari kampus di Darussalam sehabis diskusi, seorang Bapak yang naik hampir bersamaan dengan kami menyapa. Setelah berbasa-basi ke sana-kemari, aku begitu kaget ketika ia menanyakan atau lebih tepatnya menegaskan, “Diskusi tadi asyik ya. Tapi sebaiknya mahasiswa itu fokus belajar, biarlah soal negara diurus sama oleh mereka yang kita percayakan.”
“Bapak hadir saat diskusi tadi?” Potjut spontan bertanya.
“Nggak, saya cuma diceritakan sama kawan.”
Aku dan Potjut saling berpandangan. Belum sempat kami menanggapi, Bapak yang memakai peci putih haji itu pamit turun. Dari jauh, ia tampak masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Namun sejak itu, aku dan Potjut tak pernah pergi sendiri. Kalau tidak ditemani Pocut, aku selalu bersama kawan lain, berganti-ganti. Begitu pula Potjut. Kalau tidak bersamaku, pasti ia bersama teman-temannya.
Bukan apa-apa, kami paham betul bahwa harus ada yang melihat jika terjadi sesuatu pada kami. Pokoknya jangan sampai jalan ke mana-mana sendiri. Namun Potjut sempat cemas juga karena terus-menerus diikuti oleh orang-orang tak dikenal dan berganti-ganti. Itu terutama terjadi setelah kami terlibat di komite independen pemantau pemilu. Kebetulan aku duduk sebagai salah seorang presidium daerah dari unsur seniman dan Potjut menjadi anggota di salah satu bidang.
Suatu kali, seseorang mengikutiku saat singgah di masjid. Lalu dalam benakku timbul ide untuk ‘mengerjai’ orang itu. Ketika akan masuk ke tempat wudhuk, aku melepas sepatu dan menaruhnya di luar. Setiba di dalam, aku lihat orang itu berdiri dekat sepatuku. Setelah wudhuk, diam-diam, aku keluar lewat pintu lain dan membiarkan sepatu itu tetap di sana.
Lebih setengah jam, baru orang itu sadar dan masuk ke tempat wudhuk mencari-cariku. Boleh jadi, tadinya ia mengira aku masuk ke kamar mandi yang ada di sebelah tempat wudhuk. Ia tidak tahu aku sudah menghilang, shalat, lalu memperhatikannya dari jauh. Menyadari aku tidak ada, ia lalu pergi.
Pada 1997, ketika beberapa teman aktivis di Jakarta hilang, Potjut mengirim pesan singkat lewat pagerku. “Semoga Abang baik-baik saja. Tapi aku juga cemas setelah mendengar kabar bahwa kawan-kawan mahasiswa diculik.” Namun aku tidak bisa membalas kiriman pesan itu, karena ia tidak menyertakan nomor kontaknya. Ia juga sudah pindah dari tempat kos lamanya.
Aku pun benar-benar putus kontak dengan dia. Ia tahu nomor kontakku, termasuk nomor telepon kantor tempat aku bekerja. Tapi aku tidak tahu nomor kontak dia. Beberapa teman yang sempat kuhubungi mengaku tidak tahu nomor kontaknya. Bahkan, kemudian, setelah ia menamatkan kuliah pada akhir 1998, ia menghilang. Sejumlah teman yang kuhubungi mengatakan ia pulang kampung.
Potjut mengabarkan berangkat dari Bandung ke Jakarta memakai kereta Sabtu siang itu. Ia sudah beli tiket dan menunggu berangkat di stasion. Evi tidak jadi ikut. “Ia mengaku tidak enak badan,” tuturnya. “Evi tidak penting, yang penting temannya Evi,” kataku bergurau. “Sory, gombalnya nggak laku lagi. Soalnya anakku sudah dua,” ujarnya sambil tertawa. Aku juga terbahak.
Beberapa saat setelah menutup telepon, aku bergegas ke stasion Gambir. Maklum, jarak rumahku ke sana sekitar tiga jam perjalanan. Namun jika hujan benar-benar turun – soalnya sejak pagi cuaca mendung – waktu tempuh bisa jadi lebih lama. Genangan air di jalanan dan sepeda motor yang berteduh di bawah jembatan layang hingga memakai separoh jalan akan membuat laju kendaraan tersendat.
Namun, dalam perjalanan, dari radio di mobil, aku mendengar berita mengagetkan: Usman, seorang teman yang pengusaha, tertangkap tangan saat berusaha menyuap seorang pejabat. Usman dan pejabat berisial SKS itu akan dibawa ke Jakarta siang itu juga. Aku sontak menghentikan mobil, menenangkan diri. Aku seperti tak percaya pada berita itu. Dan boleh jadi Usman sedang sial.
Soalnya tanda terima kasih atau “upeti” untuk pejabat yang membantu memenangkan tender sudah menjadi rasa umum. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Satu persatu orang-orang yang kukenal, bahkan kawan baikku, dengan beragam profesi, diterkam mulut penjara. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluarganya, isteri dan anak-anaknya, mendengar kabar itu.
Setelah aku benar-benar tenang, aku meraih telepon genggam untuk menghubungi Potjut. Boleh jadi ia belum tahu suaminya, Usman, ditangkap. ***
#mustafaismail #aceh #penulisaceh #senimanaceh #penyairaceh #penulisindonesia #indonesianwriters