Jika mengingat bencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada akhir tahun 2016 lalu, aku langsung ingat akan calon pengantin yang menjadi korban pada bencana subuh itu.
Bertepatan dengan tanggal 7 Desember 2016, guncangan gempa bumi berkekuatan 6,5 skala Richter meluluhlantakkan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Indonesia. Bencana alam ini terjadi pada pukul 05:03 Waktu Indonesia bagian Barat. Pusat gempa berada di wilayah utara Kota Meureudu, Pidie Jaya dengan kedalaman 15 km. Saat itu gempa bumi ini juga terasa di kabupaten tetangga seperti Pidie, Bireuen, hingga sampai ke Banda Aceh, Langsa, dan Pulau Simeulue.
Pada malam itu, beberapa jam sebelum gempa terjadi beberapa relawan PMI (Palang Merah Indonesia) Kabupaten Pidie, sedang berada di tempat kegiatan diklatsar calon anggota KSR (Korp Sukarela) PMI. Sampai azan untuk salat Subuh berkumandang kami masih belum tidur. Hingga beberapa menit setelah itu gempa terjadi, guncangan yang dahsyat membuat kami siap siaga untuk menerima perintah darurat.
Pukul 6 lewat beberapa menit, kami mendapat kabar bahwa di wilayah Pidie Jaya dan sekitarnya mengalami kerusakan parah, dan banyak korban yang harus dievakuasi akibat gempa tersebut. Tak menunggu lama, langsung mengenakan pakaian tim ambulance dan menuju ke Meureudu, Pidie Jaya. Mulai mengevakuasi korban, baik itu yang kondisinya parah ataupun luka ringan serta korban meninggal juga kami evakuasi.
Salah satu korban yang kami evakuasi serta membuat orang-orang sangat sedih, Suharnas, berumur 31 tahun, beliau adalah salah satu korban yang meninggal dunia pada bencana gempa 6,5 SR di Pidie Jaya, subuh Rabu itu. Ironisnya, dia dan kekasihnya, Yusra Fitria, seorang perempuan dari Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, akan mengikrarkan janji suci pernikahan serta pesta perkawinan pada hari Kamis tanggal 8 Desember 2016.
Rencana bahagia itu semua tidak tercapai seperti yang sudah direncanakan. Suharnas pergi untuk selama-lamanya, Suharnas terperangkap di bawah reruntuhan bangunan ruko tempatnya mencari rezeki, akibat gempa dahsyat subuh itu di pusat Kota Meureudu. Yusra Fitria adalah putri dari M Yunus dan Rajati Dayah Timu, Kecamatan Meureudu.
Pagi hari itu kami tim relawan dari PMI Kabupaten Pidie, yang ditugaskan oleh PMI Provinsi Aceh, membawa pulang jenazah Suharnas ke rumah duka yang membuat kami diliput oleh beberapa wartawan Televisi Nasional. Bukan hanya Suharnas, kakak kandung, suami dan dua anak kakaknya juga menjadi korban yang meninggal dunia bersama Suharnas di bawah reruntuhan bangunan ruko itu.
Semua jenazah mereka kami bawa pulang ke rumah duka di Pusat Kota Meureudu, Pidie Jaya. Dengan 4 unit mobil ambulance, jenazah ditangisi para kerabat dan masyarakat lainnya yang mengenal korban. Total korban meninggal dunia pada gempa tersebut sebanyak 104 jiwa. AL-FATIHAH untuk Suharnas beserta keluarganya, juga seluruh korban meninggal dunia di bencana tersebut. Setiap makhluk Allah yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Bek tuwe Seumbahyang!!! Bertuuuuuuuuus!