Kau hadir dalam buncahan rindu, menggelayut disegenap jiwa penuh asa menapak pelan sambil membonceng kesadaranku untuk kembali pada sejatinya diri.
Kau, ah.. Meski kikuk kulangkahkan kaki pertamaku sambil menghapus air mata yang kian menghujan.. Kau setia menemaniku, kamipun bercinta dalam sunyi.
Dalam bisu kubaca firmanNya dalam buta kupandang cahayaNya dalam alpa kumohon ampunanNya. Oh kekasih, darahku mendidih, mencuatkan cinta lama... aku tertunduk malu mereguk nikmat cintaNya
Kereta ramadhan, oh kau mengajakku pulang mengisyaratkan pertemuan kami esok hari...
ya sudah, aku patuh saja karena kau adalah penyaksi cinta kami.