Sebab pertanyaan tersebut secara tak langsung, justru menjelaskan karakter kita sebagai bangsa. Yang tak ingin ribet, dan suka mengelabui logika sendiri.
Siang tadi, saya sekilas menyaksikan tingkah konyol sepasang pengantin baru dari artis ibu kota itu. Saya menemukannya secara tak sengaja di-timeline Twitter. Saya mengernyitkan kening menyaksikan setiap potong ceritanya.
"Mengapa ada tayangan sebodoh ini?"
Mulai Vicky melompat dari heli yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari laut. Lalu “tak sengaja” melemparkan cincin pernikahannya ke laut. Sekali lagi, ia membuktikan cintanya dengan melompat ke laut untuk menemukan cincin tersebut.
Alih-alih menyelam untuk mencari cincin, lelaki kelewat modern ini malah mengapung tak tentu arah. Sampai di situ, saya kira cukup! Kebodohan seperti apalagi yang hendak saya konsumsi.
Saya yakin, selugu apapun diri kita, pasti percaya bahwa semua adegan mereka itu adalah pura-pura belaka.
Belum lagi kata-kata “puitis” Vicky yang diucapkannya sesuka hatinya saja. Awalnya, kita mungkin tertawa melihat kebodohan Vicky. Tapi bagi Vicky, justru kebodohan itulah nilai jualnya. Ia mengkomersilkan kebodohanya sendiri. Ironisnya, kebodohan tersebut justru menjadi konsumsi publik.
Tapi begitulah, stasiun tv kita masih tetap menanyangkannya. Mereka rela merogoh kocek yang dalam untuk memuat semua cerita kepalsuan tersebut, lalu menyajikannya di depan mata kita.
Akhirnya kita pun terjebak dengan perasaan sendiri, antara harus tertawa atau prihatin?
Tontonan sampah seperti ini, sebenarnya bukan kali pertama tersaji di layar kaca kita. Ini adalah cerita berulang dengan kemasannya saja yang berbeda. Semua tayangan tersebut muatannya tetap sama: Sampah!
Akal yang dikaruniakan Tuhan untuk kita pun, rasanya tidak berguna jika kita hendak menonton tayangan sampah tersebut. Sebab kita tidak perlu berpikir, karena tayangan tv hari ini memang tidak menuntut kita untuk mengunakan akal.
Maka kita patut gelisah, saat tayangan sampah seperti ini semakin akrab bagi masyarakat kita. Saat akal kita terus dipecundangi oleh kepalsuan. Lalu masyarakat kita merasa nyaman, seolah mereka telah menerima dengan lapang dada semua kepalsuan ini.
Jika hal seperti ini terus berlanjut, maka tayangan tersebut akan menjadi standar di tengah masyarakat kita. Produser tv pun tak ragu lagi untuk membuat tayangan yang sama.
Sampai kapan tragedi ini? Entahlah, yang jelas mari terus merawat akal sehat. Sebab kebodohan, bagaimanapun kemasannya tetaplah kekosongan.