Suatu ketika seorang Raja mendengar akan ada serangan dari kerajaan lain ke kerajàannya. Segera saja negara mengumumkan bahwa dalam keadaan darurat. Penduduk mu.ai diungsikan ketempat yang lebih amanagar tidak menjadi korban dari peperangan yang sebentar lagi akan terjadi.
Seorang ibu tua yang mendengar berita tersebut ingin bertemu dengan raja. Ternyata, ibu tersebut ingin menyerahkan anak lelakinya yang hanya semata wayang menjadi tentara kerajaan dan ikut berperang membela negaranya. Raja begitu kagum pada jiwa patriotisme sang ibu. Raja pun menerima anak itu dalam barisan pasukannya.
Tidak berapa lama, pecahlah perang antara pasukan raja dan pasukan dari kerajaan tetangga. Selama perang yang mencekam berhari-hari, bahkan sampai berbulan. Negeri yang dulunya aman berubah menjadi arena pertumpahan darah, mayat bergelimpangan di merata tempat. Selang beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah dengan semangat mempertahankan tanah airnya, raja beserta pasukannya berhasil memukul mundur pasukan yang menyerang kerajaan mereka.
Banyak korban yang jatuh dari pasukan raja. Salah satunya adalah anak lelaki dari si ibu tua itu. Anak itu meninggal di medan perang membela negaranya. Mendengar kabar tentang meninggalnya putranya, ibu itu menangis di depan raja. Raja berusaha menghiburnya. Namun, sang ibu masih juga meluakan kesedihannya. Kemudian sang raja bertanya, apakah ibu menyesal telah mengantar anaknya sebagai pasukan kerajan?. Ibu tua menjawab, bukan tuanku. Namun saya sedih jika kedepan terjadi lagi perang, sudah tidak ada lagi yang dapat saya berikan untuk membela negara ini. Raja sangat terharu dengan ucapan ibu tersebut. Marikita fikirkan apa yang sudah kita berikan untuk negara, bukan malah apa yang sudah diberikan oleh negara untuk saya.