Minggu 26 desember 2004, Pukul 06.30
Selepas Shalat Subuh dan membaca hadis Nabi dari Kitab Fudhail Amal di Meunasah Ummahat Kubu, aku dan empat orang jamaah yang terdiri dari Neknu, Boneh, Bang Adi dan Andi menuju warung kopi tempat kami biasa mangkal setiap pagi.
Kopi kami nikmati bersamaan mendengar suara ceramah subuh dari speaker Masjid Nurul Huda yang berjarak satu kilometer dari warung kopi itu. Acara minum kopi ini sengaja aku lakukan bersama jamaah agar mereka rajin bangun subuh dan shalat berjamaah, terkadang meunasah ini sepi jamaah, bahkan pernah shalat subuh tidak dilaksanakan karena tiada jamaah yang datang.
Aku sangat prihatin dengan kondisi ini, kemudian aku mengajak beberapa jamaah Isya untuk subuh dan sebagai kompensasi yang tidak aku ucapkan, yah minum kopi itu, aku yang membayar. Terkadang kalau ada uang dari perjalanan dinas dan honor dari kegiatan di kantor, kami makan nasi gurih, nasi lemah Aceh dengan Kari Ayam dan Bebek.
Nek Nu seorang tukang bengkel, dia sudah lama menduda dan tinggal dengan dua orang anaknya yang sudah remaja, seorang laki- laki dan perempuan, anak perempuannya itulah yang menanak nasi untuk dirinya dan anak lakinya.
Nek Nu, aku tidak tahu dari mana asal nama itu, tinggal di rumah dan merangkap bengkel, atapnya terbagi dua sebelah daun rumbia dan sebelah lagi seng yang masih baru.
Saat aku tanya “Mengapa sebelah lagi tidak diganti dengan seng?” “Belum cukup uang untuk mengganti atap satunya” ujar Nek Nu sangat rajin shalat berjamaah dan itu dia lakukan lima kali sehari di meunasah yang hanya 200 meter dari tempat tinggalnya, namun terkadang dia hampir satu bulan tidak datang, alasannya ada sedikit pembicaraan dengan jamaah lain terutama si Boneh yang menyinggung dirinya sehingga ia tidak datang lagi.
Hr1
Kerusakan yang diakibatkan terjangan air bah Tsunami
Terkadang masalahnya sangat sepele yaitu saling ledek. Namun, kemudian beliau kembali berbaikan lagi dan shalat berjamaah kembali dengan ketaatan yang rutin. Sekarang Nek sudah tiada meninggal pada tahun 2014 lalu.
Boneh atau nama aslinya Mukatruddin, matanya rusak sebelah karena kecelakaan yang terjadi akibat kebakaran dari kios penjual minyak, kegiatan hariannya buat dan jual es krem, terkadang menarik becak dayung miliknya yang sudah butut, ia memiliki enam anak dan tinggal di rumah panggung beratap rumbia, tetapi tanahnya disewa dari keluarga sayid yang ada di Jakarta namun diurus oleh saudara mereka yang juga sayid di kampung itu.
Nama Boneh berasal dari panggilan orang tuanya, sewaktu kecil, Boneh berwajah indah dan berbadan sehat, kebutaannya terjadi karena salah satu penjual bensin di sebelah rumahnya yang tidak hati-hati sehingga menyebabkan kebakaran di bagian muka dan terkena mata sebelahnya.
Boneh dilahirkan di keluarga yang miskin, akibatnya dia tidak mengecap sekolah, tentunya tidak bisa baca tulis, namun itu semua tidak membuatnya minder, di kampungku dia terkenal sebagai seorang yang sangat kritis, bicara blak-blakan, ia hidup untuk hari ini, masa depan dia pikirkan tetapi dalam suasana hati yang optimis, sebab dia memang tidak butuh banyak.
Satu teman subuh kami, Adi, orang kampung memanggilnya Bang Adi Pincang, kakinya memang pendek sebelah sejak lahir, tetapi tidak membuat dia minder, penjual ikan ini sangat bersyukur atas rahmat Allah kepada ia dan keluarganya, ia punya istri yang normal dengan lima orang anak yang ganteng dan cantik.
Kemudian yang terakhir Andi, seorang bocah SMA kelas I, ia biasa bertugas membaca taklim setelah subuh, menjadi yatim sejak umur 10 tahun, dia terbiasa banyak uang dari sumbangan orang yang mengundang makan dan memberikan sekedar sedekah kepada anak yatim ketika mendapatkan keuntungan atau sesuatu yang patut mereka syukuri, jarang mereka pelihara anak yatim sebagaimana nabi harapkan, ketika banyak kesyukuran yang harus disyukuri, anak yatim dapat rezeki.
Kondisi mesjid yang selamat
Sebenarnya ada seorang lagi yang selalu menemani kopi subuh kami, yaitu Oneh, nama aslinya adalah Mustiar AR, seorang penyair dan penulis puisi dari pantai barat, kebetulan sudah satu bulan dia ke Medan menemani ibunya yang sedang berobat ke Medan dan tinggal di rumah adiknya yang perempuan yang kebetulan kerja di Medan.
Pagi yang mencercah semua kebahagiaan itu, Onehdengar dan lihat pada awalnya melalui televisi, pagi itu Oneh tidak bersama kami.
Setelah kejadian 26 Desember itu, Oneh pulang ke Meulaboh dan banyak membuat puisi tentang gempa dan tsunami terutama pada saat peringatan satu tahun, dua tahun dan tahun-tahun berikutnya.Ada saja panitia yang meminta ia menulis dan membaca puisi tentang gempa dan tsunami.
Subuh itu sebagaimana biasa, topik pembicaraan tetap seputar, mengapa sedikitnya orang kampung datang ke shalat jamaah, terutama subuh, kami yang sudah ditunjuk Allah SWT untuk keluar Subuh merasa paling hebat dan berguna. Alangkah sayangnya mereka yang masih tidur, api neraka menunggu, begitulah kesan yang aku tangkap dari sahabat-sahabat itu.
Dulunya aku juga punya pandangan seperti itu, setelah bergaul dengan jamaah tablig, tahu tentang kasih sayang dalam Islam, pemandangan di masyarakat kampung yang cuek dan tak acuh terhadap agama menimbulkan kerisauan pada diriku dan berpikir untuk mengajak mereka kembali ke agama dengan cara yang baik, tidak menggurui dan tidak merasa sudah benar sendiri.
Pembicaraan yang tidak fokus dan asal ingat itu, semakin asyik saat datang kopi. Di Aceh, warung kopi adalah salah satu tempat yang paling makmur dan banyak ditemui, sebagian besar dijadikan tempat pertemuan dan silaturahmi dan mengalahkan jamaah masjid dalam waktu tertentu.
Pembicaraan, kopi, kue dan orang-orang yang jalan pagi bercampur baur dalam indera kami. Setelah itu, kami pulang ke rumah menikmati liburan dan sahabatyang lain mempersiapkan diri membuka pintu rezeki melalui pintu pekerjaan mereka dan kasih sayang masyarakat.
Shalat berjamaah adalah salah satu amalan yang paling tinggi nilainya yang dipraktekan Nabi SAW. Malam sebelumnya ada ceramah dari salah satu jamaah tablig yang mengatakan bahwa salah satu penolak bala adalah apalabila banyak orang suatu kampung mau menegakan shalat berjamaah.
Dan ini terbukti, semua jamaah di meunasah kami dan juga beberapa masjid dan meunasah lainnya, semuanya selamat dari amukan tsunami, termasuk masjid-masjid yang menjalankan shalat berjamaah banyak yang selamat, kendatipun mengalami kerusakan namun bangunan utamanya masih bisa digunakan
Gambar relawan yang membantu memulihkan kondisi Aceh setelah ditimpa gelombang Tsunami