أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al Bazzar, Ath Thobroni dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rofi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya).
Saya mengutip salah satu hadis untuk tulisan ini. Ada banyak hadis dan contoh bahwa Islam sangat menganjurkan berbisnis. Rasul dan para sahabat umumnya adalah pedagang. Indonesia dengan penganut Islam terbesar termasuk salah satu negara yang belum makmur. Jumlah usahawan kita kurang dari 2% dari jumlah penduduk. Kultur dan mainset "cari kerja" menjadi pandangan umum. Bahkan orang orang mapan berlomba mencari sokalah ikatan dinas atau sekolah yang akan memudahkan mencari kerja. Jarang sekali orang orang tua mengarahkan anaknya menjadi pebisnis. Bahkan di keluarga pebisnis sekalipun. Ini malapetaka bagi bangsa ini terutama para muslim. Bagaimana mungkin kita meninggalkan tradisi agama kita. Kita menjadi muslim juga karena ajaran Islam dibawa para pedagang muslim. Menjadi pekerja berarti membatasi penghasilan. Membatasi sedekah. Membatasi memberi. Membatasi manfaat. Berbisnis membuka lapangan kerja. Membayar zakat. Mudah menyumbang. Dunia bisnis juga tidak akan membatasi kiprah kita.
Maka pemuda mulai lah. Bergeraklah, ubah pola pikir untuk sekedar menjadi buruh. Jangan berpaku untuk mencari pekerjaan. Ciptakan pekerjaan. Bantu sesama manusia dengan membuka lapangan pekerjaan. Jangan kejar mimpi yang tak pasti misalnya menjadi honorer dikantor pemerintah. Allah sudah menciptakan begitu banyak ruang. Lihatlah saudara kita kaum tionghoa. Mengapa mereka bisa? Bukankah kita tinggal di negeri yang sama? Makanan mereka sama dengan makanan mereka. Maka belajar dan amati. Bila etos mereka yang tinggi maka mari kita juga meninggikan. Bila mereka disiplin kenapa kita tidak? Intinya ayo memulai. Seprti kita mulai belajar berjalan. Pasti ada jatuhnya. Yang penting berusaha dan selalu belajar.
Malam ini saya menemukan seorang pemuda ulet itu. Putra Geno namanya. Penjual kerang pinggir jalan depan pajak Halat Medan. Gayanya pemuda jaman now banget. Berkalung dan beranting sebelah. Penampilannya rapi dengan kaos dan jeans skinny. Memakai gelang, iya percaya diri dengan usaha kerang rebus "Ayoi". Penghasilan nya fluktuatif. " kalau di rata ratakan di atas UMR lah bang perbulannya" ungkapnya ke saya. Iya mengaku lebih memilih berbisnis di banding menjadi pekerja. "Saya lebih bebas dari tekanan dan segala aturan di dunia kerja" jelasnya. Bisnis kerang rebus Ayoi telah berjalan lebih dua tahun. Pria ganteng ini masih lajang diumur 27 tahun ini. " saya peecaya bisnis lebih menjanjikan di banding menjasi buruh" tandasnya. Iya dengan percaya melakukannya sendiri. Terkadang pacarnya datang membantu. "Saya tetap berbangga dengan bisnis saya walau masih kelas kaki lima, karena ini lebih terhomat di banding saya harua memburuh, lagian disini lebih menjanjikan.
Diluar sana mungkin banyak pria muda yang lebih hebat dari Putra Geno. Tapi tak kurang juga yang lebih dhaif. Mereka yang berpendidikan tinggi. Yang ada dipikiran mereka ijazahnya harus laku di dunia kerja. Bahkan mereka meresa gagal bila ijazah tidak digunakan untuk memburuh. Maksud memburuh disini semua profesi yang menghasilkan gaji. Padahal pendidikan itu hanya pembuka ruang pengembangan potensi. Tidak ada satu pendidikanpun wajib linier untuk bekerja. Bisnis harus dijadikan profesi. Dan untuk itu harus menjadi cita cita kaum muda. Bisnis harus menjadi pilihan utama berkarir. Tidak boleh lagi sebagai profesi pilihan kedua atau pilihan terakhir. Bisnis harus menjadi impian kaum muda demi kebesaran agama dan bangsa ini!!!!!!