Media sosial steemit tumbuh subur di Aceh. Sekali pun saya tidak punya data resmi, tapi saya yakin setiap harinya angka pengguna Steemit menunjukkan grafik peningkatan. Motivasi dan dorongan mereka juga bermacam-macam: ada yang ingin mendapat reward, berbagi pengetahuan atau sebagai salah satu medium berinvestasi.
Apa pun motivasinya, steemit untuk sementara sudah mengubah cara bermedia sosial orang Aceh, meski tidak semuanya. Jika di media sosial Facebook atau Twitter, kita kerap menemukan konten negatif, sharing berita hoax atau kebiasaan mem-bully (plus nyinyiran) orang, maka di Steemit nyaris sepi dari konten semacam itu. Di steemit para pengguna (kreator) berlomba-lomba menghadirkan informasi positif, semangat berkomunitas, serta keinginan membantu sesama. Prinsip saling membantu dan menolong antar-pengguna begitu nyata.
Saya tidak akan gegabah mengatakan bahwa steemit dapat menjadi salah satu solusi mengentaskan kemiskinan. Namun, saya yakin, dengan ketekunan dan keseriusan (serta kerja keras), orang-orang yang menulis di Steemit (disebut Steemian) bisa mendapatkan penghasilan (reward). Mendapat upah adalah tujuan orang-orang mencari pekerjaan tetap, bukan? Nah, bukan tidak mungkin, ke depan steemian pun akan dipandang sebagai sebuah profesi, karena dengan menulis di steemit kita bisa mendapatkan upah lelah.
Para steemian yang menghabiskan banyak waktu di warung kopi untuk memposting tulisan tidak akan dipandang rendah atau buang-buang waktu. Menteri Susi pun tidak akan lagi mengeluarkan pernyataan bahwa kebiasaan anak muda Aceh nongkrong di warung kopi sebagai perbuatan sia-sia. Dan, Rektor IAIN Ar Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim, tak akan berani mengulangi komentarnya, dengan mengatakan bahwa mahasiswa yang sering nongkrong dan menghabiskan waktu di warung kopi akan membuat mereka menjadi pengemis.
Saya mencatat dengan jelas bagaimana sinisnya sang Rektor (izinkan saya menyebutnya Rektor Jaman Now), ketika memberikan kata sambutan saat mewisuda lulusan program doktor, magister dan sarjana S1 di auditorium Ali Hasjmy. "Hari ini kita menyaksikan rata-rata mahasiswa yang kuliah di Banda Aceh kerjanya nongkrong di warung kopi. Pustaka kita lihat sepi. Kalau seperti ini mahasiswa, ke depannya akan sangat berpengaruh terhadap generasi peminta," katanya seperti saya kutip dari berita ini
Betapa naifnya pernyataan itu, dan dia seakan tidak sadar bahwa sebagian mahasiswa yang diwisuda itu mungkin akan menambah daftar pengangguran baru di Aceh.
Benarkah orang-orang yang menghabiskan waktu dengan nongkrong di warung kopi membuat mereka menjadi generasi peminta-minta? Saya pribadi jelas menolak anggapan ini. Tak usah jauh-jauh, teman-teman saya yang bekerja sebagai desainer online, penulis blog atau kini penulis di steemit, bisa meraup pendapatan yang nominalnya mungkin bisa lebih desar dari upah seorang pegawai negeri sipil. Bahkan, pemasukan beberapa teman saya bahkan lebih besar dari gaji sang rektor!
Saya tak akan menjabarkan lebih detail berapa pemasukan seorang penulis di steemit. Namun, jika rektor jaman now ingin menghitung penghasilan seorang Steemian, dia bisa menggunakan kalkulasi kasar, dengan melihat trend harga Steem dan Steem Dollar (SBD). Saat tulisan ini saya tulis, harga 1 SBD setara dengan Rp111.729, sementara harga 1 Steem senilai Rp90.014. Sebagai gambaran, rata-rata seorang steemian bisa mendapatkan 10 SBD sebagai reward untuk satu tulisan. Masukkan saja angka tersebut di kolom pada gambar yang saya lampirkan ini, dan sang rektor pasti akan geleng-geleng kepala.
Dengan penjelasan singkat ini, saya ingin mengatakan bahwa steemit bisa menjadi salah satu cara melawan argumentasi sang Rektor Jaman Now, yang tak lain adalah dosen yang sangat saya harmoti. Kepada Steemian, teruslah menulis dengan menebarkan semangat positif di steemit, dan orang-orang tidak akan memandang rendah pada profesi kita ini. Semoga!