Inilah kisahku semalam di Malaysia
Diri t'rasa sunyi
Aduhai nasib, apakah daya
Aku hanya seorang pengembara yang hina - Bimbo
Aku sedang buang air kecil di toilet rumah makan Sup Datang ketika hujan mengguyur kawasan Segambut, Malaysia. Hujan yang turun tanpa pertanda mendung itu seperti memberi kejutan bagi kami yang baru beberapa jam lalu menginjak kaki di Malaysia.
Rumah makan Sup Datang baru saja buka ketika Aku, Riadi dan Nabil tiba di sana. Tirai berupa anyaman bambu yang diraut tipis bahkan belum sempat digulung ke atas. Awalnya kami ragu memasukinya, tapi pelayan memberi isyarat bahwa warung mereka siap melayani tamu.
Kami sengaja memilih Sup Datang karena menurut Azmi, adik dari Riadi, warung ini menyediakan menu tomyam yang sangat enak tapi murah, juga terkenal karena sup-nya yang maknyus. Aku tidak tahu apakah Bondan Winarno (kini alm) pernah singgah di sini. Aku memesan tomyam, Nabil pilih sup buntut dan Riadi menjatuhkan pilihan pada daging sapi masak merah. Soal minuman, aku dan Nabil sangat kompak: teh-o; Riadi memesan coklat dingin, yang diakuinya sebagai pilihan keliru karena ketika dihidangkan, hujan pun mulai turun. Deras sekali.
Ketika semua menu yang kami pesan itu terhidang di atas meja, kami pun makan dengan lahapnya persis seperti perilaku orang yang berbuka puasa ketika mendengar adzan magrib. Kami semua memang sedang lapar. Nabil yang berangkat dari Jakarta dan tiba di KLIA 2 pukul 9 pagi hanya makan bubur di McDonald, sementara aku dan Riadi, yang berangkat dari Banda Aceh tiba pukul 11 lewat sedikit, cuma makan burger, ayam plus kentang goreng. Nabil bahkan sampai tertidur menunggu kami di sana.
Dua jam lebih kami bertahan di kawasan Bandara. Sembari berusaha menikmati suasana di bandara, Riadi berusaha mengontak adik-adiknya agar menjemput kami setiba di KL Sentral nantinya. Rupanya, mereka semua sedang berlibur dan ada yang masih di lokasi kerja.
Dari Bandara ke KL Sentral kami memilih naik bus. "Kita naik bus saja, biar pulas melihat pemandangan di jalan," kata Riadi. Harga tiket bus RM 12. Jika mau lebih cepat tiba di KL Sentral kita bisa menggunakan kereta api KLIA Express. Nabil yang tak kuasa melawan kantuk langsung tertidur pulas, begitu pula dengan Riadi. Aku sendiri paling susah memejamkan mata.
Tak sempat kucatat berapa lama jarak tempuh dari bandara ke KL Sentral. Kalau dihitung-hitung mungkin sekitar 40 menit. Kami berharap setiba di KL Sentral langsung ada yang menjemput, namun harapan itu memudar seketika.
Riadi rupanya sama sekali tidak memberi tahu ibunya soal keberangkatan ke Malaysia. Dia sempat panik sebentar ketika menelpon adiknya yang mengabarkan jika ibunya tidak ada di rumah. Jika nekad langsung pulang, pasti tidak bisa masuk juga karena tak ada kunci. Lagi pula, dia tidak begitu hafal lokasi rumah. "Saya tidak ingat lagi lewat jalan mana," katanya. Kami cuma bengong.
Kepada adiknya Riadi sudah bilang bahwa setiba di KL Sentral akan dihubungi lagi. Rupanya, tidak ada koneksi internet gratis di kawasan ini, dan Riadi kesulitan menghubungi adiknya. Akhirnya kami berputar-putar tidak jelas di kawasan ini. Kira-kira sampai dua jam kami di sini. Saya lihat KL Sentral sudah banyak berubah sejak terakhir aku datang ke sini pada 2009 silam.
Dari KL Sentral ke rumah Riadi juga tidak ada jemputan. Kami pun memilih naik KTM Komuter dengan tiket seharga RM6 untuk tiga orang. Terakhir kali aku naik kereta api 7 tahun silam di Amsterdam, ketika pergi ke Red Light di kawasan dam.
Keliling Kota Kuala Lumpur
Malamnya kami memilih keliling Kuala Lumpur dengan mobil BMW. Kami diajak ke Likot Mate (jalan belakang mati) di kawasan Chow Kit. Lagu Ayat-ayat Cinta mengalun pelan dari mobil BMW yang kami tumpangi. Awalnya aku berharap bisa mendengar Semalam di Malaysia yang dinyanyikan Bimbo ketimbang lagunya Rossa. Suasana kota Kuala Lumpur yang sedikit gerimis lebih cocok dengan lirik dalam Semalam di Malaysia.
Inilah kisahku semalam di Malaysia
Diri t'rasa sunyi
Aduhai nasib, apakah daya
Aku hanya seorang pengembara yang hina
Saya tidak tahu apakah lagu yang dibawakan Sam Bimbo itu khusus dibuat untuk soundtrack film Semalam di Malaysia, sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1975. Entah kebetulan atau tidak, film yang disutradarai Nico Pelamonia itu turut dibintangi Sam Bimbo dan Kusno Soedjarwadi.
Kakiku yang mulai sakit sejak mendarat di KLIA karena sepatu yang kukenakan terlalu sempit memaksaku mencari penggantinya. Kalian bisa bayangkan betapa tidak nyamannya jalan-jalan dengan kondisi kaki sakit. Ini murni salahku sendiri mengenakan sepatu milik adikku. Padahal aku punya sepatu sport hitam, tapi sayangnya masih basah.
Malam pertama di Malaysia, aku pun harus membeli sepatu baru, bukan karena memuja fashion, tapi murni karena tidak tahan dengan sepatu yang ukurannya kekecilan. Sekiranya tak kuganti baru maka perjalanan selama seminggu bakal tidak akan melahirkan cerita. []