Ini adalah kisah ku bersama kay dalam menjalani hobi ku.
Berawal dari seringnya saya main ke ke warnet, maklum kala itu warnet lagi heboh-heboh nya di kota ku, saat saya sedang asik-asik nya menjelajahi youtube, tiba-tiba saya terfokus pada satu video orang-orang mongolia yang sedang berburu seekor serigala dengan bantuan seekor elang.
Mulai saat itu saya pun jadi kerajinan mengutak-atik google, mencari tau tentang kegiatan orang-orang mongol tadi, yang pertama saya ketahui adalah nama kegiatan itu falconry atau kalo bahasa nya orang mongol berkuchi, yaitu seni olahraga berburu menggunakan burung pemangsa, baik itu elang atau alap-alap, yang unik dari falconry ini adalah salah satu olahraga yang berumur cukup tua, bahkan sudah ada di mesir sejak abad ke 8 sebelum masehi,
Karena saya semakin penasaran dengan falconry, saya pun mulai mengutak-atik medsos, siapa tahu ada grup-grup diskusi tentang falconry di medsos, dan kebetulan saya menemukan grup nya orang-orang indonesia,
Singkat cerita 2 tahun telah berlalu, saya menemukan seekor elang yang di pajang dalam sangkar kecil di sebuah toko burung.
Berbekal ilmu yang saya dapat dari kawan-kawan di grup medsos tadi, saya pun membawa pulang si elang yang mulai menunjukkan gejala-gejala stres akibat di kurung dalam tempat yang sempit dan di letak kan di keramaian pasar, saya pun memberi nya nama sky tapi lama kelamaan saya malah memanggil nya kay.
Butuh waktu lama kay mau makan di atas sarung tangan saya, mungkin dia masih trauma, dengan proses yang sangat menuntut kita untuk memiliki rasa sabar, kay pun akhir tunduk walau sangat sering tangan saya berdarah dan bengkak akibat cengkraman kay yang mustahil kita lepas kan dengan tenaga kita,
foto saat-saat bersantai bersama kay di areal pesawahan.
Kali ini kami mulai berlatih di luar ruangan, mulai dari memanggil nya agar kembali kepada saya dari kejauhan sampai dengan mengajari nya berburu hewan-hewan yang bisa saya konsumsi ataupun berburu hewan-hewan yang menjadi hama,
foto kay sedang terbang kembali ke arah saya saat di panggi.
Kisah yang paling saya ingat sampai saat ini adalah di saat kay mengejar mangsa liar pertama nya, saat itu kay menangkap buruan nya di tengah rawa-rawa kecil.
Disitu saya hampir kehilangan nyawa saya, saat saya menggil kay untuk keluar dari rawa, kay tidak merespon nya, dia terlalu sibuk dengan mangsa di kaki nya, saya pun akhir nya berinisiatif untuk masuk ke rawa yang saya anggap dangkal itu, tapi saat saya memasuk kan kaki ke dalam air, bluuub saya langsung tenggelam ke dalam air yang berlumpur itu, untung nya tangan kanan saya sempat menggapai rumput-rumput di tepi rawa, saat saya berjuang untuk keluar dari rawa yang berlumpur itu, kay dengan anteng nya terbang ke atas daratan dengan seekor ruak-ruak di kaki nya yang sedang mencoba melepas kan dirinya dari kuatnya cengkraman kaki elang, setelah berhasil lepas dari maut yang hampil membawa ku ke alam kubur, saya pun mengambil beberapa potong daging untuk saya tukar dengan hasil buruan nya si kay.
Dan ruak-ruak itu pun masuk ke dalam kuali bersama dengan sedapnya mie aceh.
foto saya dengan dua ekor burung kuntul hasil buruan si Kay.
Satu lagi pengalaman yang menakjubkan dari atraksi perburuan dari seekor elang brontok, Kali ini yang direnggut nya adalah seekor predator yang sangat di takuti oleh ular-ular berbisa dialah sang cerpelai atau orang sumatra mengenalnya dengan nama cerape, bagi petani hewan ini dianggap sebagai sahabat, tapi bagi para peternak dia di cap sebagai hama.
Saat itu saya sedang berjalan di pinggir alur kecil di tengan pesawahan, tiba-tiba kay terbang dengan kecepatan penuh mengejar hewan di kejauhan yang sedang berlari di balik rumput-rumput kecil,
Saya pun bergegas lari mencoba mengikuti kay yang kecepatannya beda jauh dengan saya, sesampai nya saya di sana, kay sedang bergumul dengan sepasang cerpelai yang sangat besar.
Bahkan seekor dari cerpelai itu mencoba menyerang saya, dan itu berhasil membuat saya jungkir balik, tapi akhirnya cerpelai yang menyerang saya lebih memilih kabur ketimbang membantu pasangan nya,
Tak berselang lama, kay pun berhasil melumpuh kan cerpelai yang bertarung dengan nya,
foto Kay dengan cerpelai/cerape yang di lumpuhkan nya.
dan kay pun menjadikan nya sebagai santapan nya, cukup lama kay untuk menghabiskan makanan nya, sebab sudah sifat alami nya elang selalu membersih bulu-bulu hewan mangsa nya sebelum di santap.
Setelah kay menghabiskan makanan nya saya pun pulang dengan perasaan takjub, karena kay si partner kesayangan ku telah menyuguhkan pertarungan sengit antara dua top predator.
Terima kasi kepada bang yang telah membuat even ini, yang dengan adanya even ini membangkitkan semangat saya untuk menulis tentang hobi saya ini.
Bagi kawan-kawan stemian, bila kalian suka dengan tulisan ini silakan upvote dan jangan lupa follow nya.