Aku.... takan bisa merubah masalalu menjadi sebuah cerita yang indah, seperti dalam novel ataupun dalam dongeng dongeng.
Aku pun... tidak bisa mensensor bagian bagian naskahnya yang tidak ku inginkan...seperti pada drama derama atau pada film layar lebar
Mungkin saja menurutku bagian itu sangat buruk... tapi bukan tidak mungkin jika bagian itu justru menjadi titik yang menarik menurut sang sutradara...karena hanya sang sutradara yang tahu naskah apa yang pantas aku perankan.
Sudah sewajarnya jika Aku memerankan apa yang harus aku perankan, menangis saat harus menangis.... dan tertawa saat harus tertawa....karena memang itulah bagian bagian dari naskah yang kemudian membuatnya menarik.
Tetap pokus berperan hingga tak terasa berpuluh puluh helai telah di perankan. Waktu menjadi saksi seberapa besar keberusahaanku seberapa besar kemampuanku.
Seperti apapun ahir dari cerita itu, itulah yang pantas dan yang terbaik untuk ku.