SEBAGAI seorang ayah, tentu saya berharap anak saya menjadi lebih baik dibanding saya. Saya yakin, para stemians juga berharap begitu. Bahkan, bandit pun ingin anaknya soleh-solehah.
Namun, patut kita renungi bersama, seberapa sering kita berdiskusi dengan anak kita? Seberapa lama kita mendengarkan ceritanya? Seberapa lama kita menemaninya bermain? Atau, pernahkah kita memeluknya?
Pertanyaan yang begitu bisa menjadi lebih panjang lagi. Tergantung masing-masing kita mendefinisikan soal kedekatan dengan anak. Lazimnya, seorang ayah tentu fokus mencari rupiah. Pengorbanan dan kerja keras itu tentu berakhir pada satu tujuan untuk membahagiakan anak dan istri. Kalau kata lagu lawas-demi kau dan si buah hati-tampaknya relevan tentang ini.
Namun, karena keranjingan bekerja, bahkan melupakan waktu untuk anak, ini yang menjadi masalah di kemudian hari. Bisa jadi, tak akan masalah pula. Saya sering melihat FTV Indonesia bercerita soal ini. Ketika ayah sibuk di luar, yang merawat anak ibu semata, lalu anaknya bandel, dan sang ayah menyalahkan si ibu. Ah, rasanya ini tak begitu sepenuhnya salah seorang istri. Dia cukup letih.
Kembali lagi, peran ayah terkadang sangat minim berbagi dengan anak, mengajaknya diskusi dan lain sebagainya. Menurut saya, ada baiknya mengajak anak diskusi saban hari. Waktunya bisa disesuaikan, apakah sebelum tidur, setelah dia mengaji atau belajar atau carilah waktu sesibuk apa pun buat berdiskusi. Hingga dia menjadi anak yang terbuka, terbiasa berdiskusi dan mengeluarkan gagasannya.
Ibaratnya, seperti teman sendiri. Tapi tak mengurangi rasa hormatnya pada ayah. Momen kedekatan ayah dengan anak sesungguhnya sangat ringkas saja. Apalagi anak perempuan, ketika dia meranjak dewasa, maka tak kan mungkin memeluknya. Untuk anak pria momennya bisa agak lebih panjang.
Karena itu, ada baiknya berupaya sedekat mungkin dengan anak. Sehingga, kita bisa jadi teman curhat, lawan debat, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, jika dia menghadapi masalah kita segera bisa mendeteksinya. Untuk inilah kedekatan itu penting.
Ketika dia nanti telah menikah, tentu momen itu sirna sudah. Maka, kita kan berharap seandainya waktu bisa dibalik. Ah, maka, sekaranglah waktunya kita berdiskusi dengan anak. Bermain, Berdiskusi, Memeluk. Sepertinya itu akan menjadi indah. Salam.
