SAYA membaca novel Cinta Kala Perang ini satu malam. Sembari menyeruput kopi, novel terbitan ElexMedia Komputindo itu saya baca pelan-pelan. Penulisnya seorang stemians .
Bagian awal novel ini mengisahkan bagaimana seorang dara Aceh, mensyukuri hidup. Menikmati hidup serba keterbatasan di kaki Gunung Leuser. Tentu bisa membayangkan hidup di kaki gunung itu. Serba susah. Hanya alam membentang dan sungai Alas nan populer itu sepanjang mata memandang.
Tari, nama gadis itu. Secara kebetulan, jalan hidupnya mengenal seorang pria. Sedang merintis karir sebagai militer. Meski terpaut jarak dan waktu, berbeda kota. Hubungan itu tetap terjaga, lewat kertas yang dikirim via kantor POS. Tentu era itu telepon dan smart phone hanya dimiliki oleh kaum mapan. Seting novel ini sekitar 2004-2005.
Lalu, penulisnya berpindah seting ke Aceh Utara. Cara memindahkan seting ini terbilang apik, karena Tari kuliah di kota itu. Lalu mulai lah penulis membawa ke ranah konflik Aceh. Dimana razia sepanjang jalan lintas Medan-Banda Aceh.
Selain itu hubungan dengan militer terus berlangsung. Dia lalu tergabung dengan sebuah NGO lokal menasbihkan diri bidang advokasi. Tari bersama teman-temannya mengadvokasi kekerasan militer yang terjadi saat itu. Bukan hanya kekerasan yang dilakukan militer, dilakukan sipil pun diavokasi.
Atasnama kekerasan semua harus dilawan. Begitu pemikiran Tari dan kawan-kawan.
Hubungan dengan prajurit itu terus berlangsung. Ketika prajurit itu ditarik kembali ke satuannya di Jakarta, Tari bersedih.
Satu waktu, Tari ikut pelatihan ke Jakarta. Di sana dia menghubungi prajurit militer itu. Taufan namanya. Dia pun bertemu. Menjumpai ke rumahnya. Betapa terkejutnya Tari ketika disambut oleh putri dan istri Taufan. Dari situ dia sadar bahwa mereka tak mungkin bersatu. Prajurit ini mengkhianati cintanya. Dia menipu, mengaku lajang dan mengaku cinta.
Namun, poin lain dalam tulisan itu adalah, bahwa cinta tak kenal waktu. Bisa datang kapan saja. Bisa pergi kapan saja. Ketika senjata menyalak dan kondisi keamanan tak memungkinkan pun cinta bisa tumbuh dan berbunga-bunga. Dia juga bisa mati.
Ibarat bunga, cinta butuh perawatan, agar tak layu dan mengering. Tulisan ini tampaknya sebagian realitas. Mengingat era lampau bahwa di pelabuhan saban penarikan pasukan, maka kekasih dan “kekasih” mereka berdiri berdesakan di pelabuhan. Bahkan foto berciuman antara gadis Aceh dan prajurit, pernah dimuat oleh media massa saat itu.
Saya membeli Novel ini secara Online, Mungkin Anda ingin membeli novel ini , silakan klik link di Bawah ini :
SALAM KOMUNITAS STEEMIT INDONESIA