HARI ini operasi pengamanan jalur mudik dan balik dimulai. Seluruh daerah di tanah air menggelar operasi gabungan, melibatkan seluruh pihak, mulai dari polisi, TNI, satuan polisi pamong praja, dinas perhubungan, dinas kesehatan dan lainnya.
Selama musim mudik ini, saya menonton iklan yang bagus. Pesannya, seorang nakhoda laut tersenyum bahagia setelah tiba di pelabuhan. Mengantarkan peserta mudik.
Itu pesan terdalam. Saya senang betul melihat pesan itu. Senang dalam arti, bahwa di tengah kebahagiaan kita pulang kampung, ada orang lain yang berkorban. Kebahagiaan itu sangat relatif. Para awak bus, pesawat, kapal laut, dan armada mudik lainnya merelakan diri untuk tidak pulang kampung. Tidak berkumpul di hari nan fitri bersama keluarga. Semata-mata untuk kebahagiaan kita sebagai pemudik.
Untuk itu, patutlah kita menghargai pengorbanan mereka. Mereka tentu ingin berbahagia bersama keluarga. Tentu ingin berkumpul saat lebaran tiba. Namun, keinginan itu terpaksa di tunda. Semata-mata demi kita, sebagai pemudik.
Maka, janganlah terlalu rewel selama perjalanan. Jangan pula terlalu banyak aturan dan banyak tuntutan dengan menggunakan armada angkutan umum. Yang penting adalah, mengingatkan sopir agar jangan ugal-ugalan. Karena itu untuk keselamatan kita semua.
Pengorbanan lainnya, polisi dan aparat keamanan jalan raya yang 24 jam bergantian menjaga arus mudik. Mengatur lalu lintas. Buat apa? Tugas mereka? Iya. Itu tugas mereka. Namun, ingatlah pengorbanan mereka.
Belum lagi mereka berkeliling rumah untuk memastikan rumah para pemudik aman dari kasus pencurian. Itu semua patut kita apresiasi.
Bagi para pemudik, tentu ada baiknya mempersiapkan diri secara baik. Termasuk kesehatan. Jangan sampai sakit di perjalanan dan menambah kerja para aparatur yang terlibat dalam arus mudik.
Menjadi pemudik mandiri adalah pilihan bijak. Sehingga kita sampai ke kampung halaman dengan baik. Merakayan kebahagiaan bersama orang tercinta. Selamat menikmati arus mudik bagi seluruh stemian nusantara.

