BICARA komitmen tentu bicara keterikatan. Dalam laman bahasa Indonesia online, komitmen dimaknai sebagai perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Umumya, komitmen bicara ikhtiar untuk kemajuan bersama.
Artinya, ada saling keterkaitan, saling membantu. Bukan berat sebelah. Ketika sebelah kiri terluka, harusnya sebelah kanan ikut merasa nyeri. Ketika sebelah kanan tersenyum, sebelah kiri ikut berbahagia.
Konsepsi komitmen ini sebenarnya berlaku sejak berpuluh tahun lalu. Namun, terkadang kita abai. Wajar saja, setiap manusia memiliki ego pada kadar tertentu. Terkadang ego itu berada pada kadar-bahwa diri kita saja yang senang-soal teman lainnya tak happy itu sih derita loh (mengikut kalimat anak zaman now).
Sebuah hubungan tentu membutuhkan komitmen. Ini tak perlu tertulis layaknya perjanjian jual-beli. Namun, cukup memahami. Kaum dewasa tentu sangat paham masalah ini. Bahwa, berteman itu butuh suatu komitmen yang tertanam jelas di relung hati.
Namun, ada petuah klasik, untuk melihat komitmen temanmu, jangan melihatnya ketika dia miskin. Namun, lihatlah ketika dia memiliki jabatan dan memiliki pendapatan lumayan bagus (bisa menabung).
Setelah temanmu memiliki jabatan, apakah dia masih menghubungimu seperti sebelumnya. Lazimnya, ketika berada di jabatan tertentu, akan bergabung dengan komunitas baru, gaya baru, komunikasi baru, dan perilaku baru. Walau ada juga, meski menempati jabatan baru, bangkit dari kemiskinan, namun tetap menjaga temannya sebelumnya. Masih saling berkomunikasi, saling menjaga, saling berbagi suka dan duka.
Inilah esensi berteman sesungguhnya. Lazimnya perbedaan pendapat sedapat mungkin dimaknai sebagai berkah. Diartikan sebagai pertukaran pikiran dan pendapat. Namun, ada soal yang lebih dahsyat. Soal beda pendapatan. Ini kerap tak bisa ditemukan titik simpulnya. Teman terkadang tak bisa melihat pendapatan teman lainnya bertambah. Lalu berupaya sedapat mungkin mencari celah untuk sedikit banyak berpendapat negatif soal teman itu. Ah, ini yang kemudian dijadikan anakdot—bukan beda pendapat, tapi beda pendapatan—kerap dibincangkan oleh masyarakat kita.
Saya mempersilakan kita beda pendapat. Namun, bersyukurlah soal beda pendapatan. Minimal, jika teman kaya, kita bisa meminjam duitnya. Atau setidaknya, dia tak meminjam duit kita lagi. Hidup haruslah sederhana melihat realita. Jangan terlalu ribet dan ruwet. Terpenting, mari berkomitmen untuk bidang yang kita sukai.