Hari Joemat 17 Agoestoes 2018, genap 73 tahoen Indonesia merdeka. Seboeah perdjalanan singkat ataoe pandjang, tergantoeng darimana kita melihatnja. Dibandingkan dengan Amerika Serikat jang soedah 242 tahoen, tentoenja oesia Indonesia masih sangat moeda. Tapi dibandingkan dengan negara-negara Eropa petjahan Oeni Sovyet ataoe petjahan Yoegoslavia, Indonesia tentoe soedah toe. Oentoek oesia manoesia, 73 tahoen termasoek soedah oezoer. Tenaga berkoerang, pandangan mata moelai kaboer. Sering sakit-sakitan.
Djikaloe kita lihat ke belakang, bangsa Indonesia soedah mengalami banjak coebaan. Berbagai tragedi mewarnai perdjalanan bangsa, bajik dengan bangsa lain maoepoen dengan bangsa sendiri. Soedah seharusnja masjarakat Indonesia beladjar dari sedjarah agar mendjadi bangsa jang dewasa. Toe itu soedah pasti, tetapi dewasa meroepakan proses pembeladjaran jang haroes dilatih teroes oentoek meningkatkan kwalitet hidoep.
Apakah Indonesia soedah dewasa di oesianja jang ke-73? Kita bisa lihat secara kasat mata, betapa bangsa ini terlalu banjak menghabiskan waktoe, enerji, fikiran, dan tenaga oentoek konflik jang tidak perloe. Bangsa ini tidak mengambil hikmah kebidjaksanaan dari berbagai persoalan di masa laloe. Momentoem demi momentoem jang terdjadi berlaloe begitoe sahaja.
Masjarakat Indonesia masih moedah dipetjah-petjah oentoek kepentingan politek praktis. Masjarakat moedah dipengaroehi oentoek kepentingan politek. Tuwan—tuwan dan poewan-poewan di elite politek tidak segan-segan mengoerbankan persatoen dan kesatoen bangsa. Koendisi itoe bisa kita lihat setiap momen politek terdjadi seperti pemilihan oemoem 2019 jang akan datang.
Masjarakat haroes lebih dewasa dengan pilihan politik jang berbeda. masjarakat djangan maoe didjadikan objek politek semata. Sedjarah soedah memboektikan perpetjahan tidak mengoentoengkan semoea pehak. Djangan sekali-sekali meloepakan sedjarah.
Di djaman teknologi yang teroes berkembang seperti sekarang, kabar-kabar palsoe ataoe hoaks berkembang dengan tjepat dan moedah. Di sinilah diboetoehkan kedewasaan berfikir masjarakat dalam menerima kabar jang beredar di media sosial jang di djaman dahoeloe tidak ada. Masjarakat haroes bijak menerima setiap kabar dengan melakoekan tabayyun. Goenakan pikiran setiap menerima kabar yang berpotensi memetjah ukhuwah bangsa.
Dirgahajoe Repoeblik Indonesia. Semoga bangsa ini semakin bijak dan dewasa menghadapi tantangan hidoep yang semangkin berat.
*****
