Mummies or corpses are preserved not only known by ancient Egyptian society in the Middle East. Hundreds of years ago, long before the republic was independent, and before the technology developed as it is today, the Dani tribe communities in Papua have made mummies. They preserve important people in their tribe or group. This mummy can still be seen until now.
But unlike the way that the ancient Egyptians did, the Dani tribe who hammered the Baliem Valley in the Central Highlands of Papua chose to preserve their ancestors with fumigation. In addition, corpses that are preserved are also not included in the usual crate of mummies in general. The Dani tribe only placed the body in a building called Honai.
Honai is a small traditional house. The average height of an Honai is about one meter. Honai made of wood with a roof of straw. Apart from being a residence, Honai also became a weapon and mummy storage.
Another uniqueness on the Dani tribe mummies is, the preserved corpse is not laid down, but seated with the position of the hand holding the foot. One of the most famous mummies among them is Agat Mamete Mabel who during his lifetime was the chief of the tribe in the Wogi village, Wamena. The mummy is estimated to be over 250 years old.
Now no more mummification or preserving dead bodies. But the Dani tribe continues to take care of the mummies that exist as a form of respect for their ancestors. The hundred-year-old mummy is also considered sacred and brings blessings to the citizens.
If you want to photograph this mummy, prepare a fairly expensive cost. According to some information, for one shooting session charged tariff about one million rupiah. Unlike when the tourists who want to take pictures come in a group, then for one shoot charged at about two and a half million. This cost is then used by the villagers for the benefit of the village.
In addition to the Dani tribe, Moni Tribe also has a mummy named Belau Mala. This mummy is not preserved with fumigation, but with smeared pork oil and dried near the fireplace.

*INDONESIA*
Uniknya Mumi Suku Dani di Papua
Mumi atau mayat yang diawetkan ternyata tidak hanya dikenal oleh masyarakat Mesir kuno di Timur Tengah. Ratusan tahun yang lalu, jauh sebelum republik ini merdeka, serta sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, masyakarat Suku Dani di Papua sudah membuat mumi. Mereka mengawetkan orang-orang penting di tengah suku atau kelompok mereka. Mumi ini masih bisa dilihat hingga sekarang.
Namun berbeda dengan cara yang dilakukan masyarakat Mesir kuno, Suku Dani yang menghubi Lembah Baliem di kawasan Pegunungan Tengah Papua memilih mengawetkan leluhur mereka dengan pengasapan. Selain itu, mayat yang diawetkan juga tidak dimasukkan dalam peti lazimnya mumi pada umumnya. Masyarakat Suku Dani hanya menempatkan mayat tersebut di dalam sebuah bangunan bernama Honai.
Honai adalah rumah adat yang mungil. Ukuran tinggi rata-rata sebuah Honai sekitar satu meter. Honai terbuat dari kayu dengan atap dari jerami. Selain sebagai tempat tinggal, Honai juga menjadi tempat penyimpanan senjata dan mumi.
Keunikan lain pada mumi Suku Dani adalah, mayat yang diawetkan tersebut tidak dibaringkan, melainkan didudukkan dengan posisi tangan memegang kaki. Salah satu mumi yang sangat terkenal di kalangan mereka adalah Agat Mamete Mabel yang semasa hidupnya merupakan kepala suku di Desa Wogi, Wamena. Mumi ini diperkirakan sudah berusia lebih dari 250 tahun.
Sekarang tidak ada lagi pembuatan mumi atau pengawetan jasad yang telah meninggal. Namun Suku Dani masih terus merawat mumi yang ada sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur mereka. Mumi yang sudah berusia ratusan tahun itu juga dianggap sakral dan membawa keberkahan bagi warga.
Bila Anda ingin memotret mumi ini, persiapkan biaya yang lumayan mahal. Menurut beberapa informasi, untuk satu sesi pemotretan dikenakan tarif sekitar satu juta rupiah. Berbeda bila wisatawan yang ingin memotret datang dalam sebuah rombongan, maka untuk sekali pemotretan dikenakan biaya sekitar dua setengah juta. Biaya ini kemudian digunakan oleh warga untuk kepentingan desa.
Selain Suku Dani, Suku Moni juga memiliki sebuah mumi bernama Belau Mala. Mumi ini tidak diawetkan dengan pengasapan, namun dengan diolesi minyak babi dan dikeringkan di dekat perapian.
