Sore tadi , sebuah tautan masuk ke Whatsapp saya. Ketika melihat nama Suhiel saya langsung kaget. "Dia menulis dalam bahasa Inggris?" . Saya langsung membuka tautan yang berjudul Rerebe Waterfall - Hidden Natural Beauty of Aceh.
Saya yakin Suhiel pasti menerjemahkannya melalui Google Translate. Saya kerap memberitahunya untuk menulis kalimat yang baku dalam bahasa Indonesia supaya ketika kita menerjemahkannya dalam bahasa Inggris di Google Translate, maka terjemahhannya akan bagus. Sebagian orang mungkin terlalu sinis dengan Google Translate, padahal dia juga tidak bisa berbahasa Inggris. Hari Kamis kemarin, kami bersama komunitas English Lover mengadakan pertemuan bersama Mr. Kevin dari Australia. Mr. Kevin sangat menyarankan penggunaan Google Translate, karena kita bisa mendengar pronouncation yang benar dalam bahasa Inggris.
Saya kemudian mencandai . "Saya tidak punya ide nih untuk menulis di Steemit" ketik saya di Whatsapp. "Tulis saja tentang saya" balasnya kemudian diikuti dengan "hahahaha". Baiklah, saya akan menulis tentang dirimu, kata saya dalam hati.
Pertama kali saya mengenal Suhiel itu saat mengikuti In House Training Aceh Documentary Competition 2014. Malam setelah pengunguman kami lolos sebagai 5 tim finalis yang kemudian mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan belajar tentang film, Suhiel duduk bersama saya dan bang Ajir di beranda asrama penginapan di LPMP Neuheun, Aceh Besar.
Dia terlibat pembicaraan yang panjang bersama bang Ajir. Mereka telah saling mengenal saat Aceh Documentary Competition 2013, tepatnya setahun yang lalu. Dari sanalah saya melihat Suhiel adalah seorang yang sangat easy going dan ramah terhadap orang baru.
Suhiel memiliki keahlian di bidang penyuntingan gambar dalam film. Saat itu dia bercerita bahwa dia belajar editing video pada , kawan satu sekolahnya yang sekarang menjadi sejawat di Yayasan Aceh Documentary. Suhiel bisa duduk sehari penuh tanpa tidur jika dia sudah mulai mengedit sebuah film. Sebagian besar film dokumenter di Aceh Documentary periode 2013 -2015 adalah hasil editannya.
Walaupun handal mengedit film dan video, Suhiel bukan seorang yang sombong. Kamu tidak akan mendapatkannya diam jika menanyakan sesuatu tentang hal penyuntingan gambar dalam film. Saya belajar banyak darinya. Dia membantu setiap sineas yang menjadi finalis Aceh Documentary.
Suhiel terus menemani sineas mulai dari proses pembuatan script hingga editing periode 2013 hingga kemarin 2017. Dedikasi dia kepada film tidak bisa diragukan lagi. Sineas alumni Aceh Documentary banyak yang masih menjalin komunikasi dengannya. Dengan perangainya yang disukai oleh semua orang, Suhiel menjadi tempat bertanya yang asik.
Pada bulan Agustus 2017 kemarin, Suhiel bahkan bersedia membantu proses pengambilan gambar pada film dokumenter saya bersama dan kemudian bersedia juga untuk menjadi editor dalam penyelesaian akhir film.
Kami mempunyai beberapa kesamaan dalam banyak hal. Oleh karena itu, kami sering sependapat dalam pola fikir. Suhiel adalah pekerja keras. Namun sesekali perlu disemangatin juga. Misalnya saat kami sama-sama mulai bersteemit. Kami termasuk dua orang yang sudah beberapa kali diterpa pesimis. Mulai dari menjadi youtuber, blogger, kami kerap mendapat rintangan yang membuat kami patah semangat. Saat di Steemit pun begitu. Kami dengan tekun mempelajari setiap istilah dan tata cara di Steemit. Akhirnya kami mendapat angin segar bersama sebagai buah hasil ketekunan.
Jika kamu ingin berteman dengan Suhiel, kunci utamanya adalah: Jagalah rahasia-rahasianya, dan hargailah hasil kerjanya dan biarkan dia berkreasi. Yakinlah, pikiran imajinatifnya tidak akan bisa kamu kalahkan.