Hello, Steemians! Ketemu lagi denganku pada postingan keempat. Hayyah, baru empat aja kok udah bangga, yak? Hehe, boleh donk!
Hari ini, aku ingin cerita tentang sebuah jembatan yang sempat bikin aku menyerah untuk terus menggunakannya, karena terlalu menyedot energi dan menyebabkan lututku gemetaran dan keringat mengucur deras, dan sukses mengkonversi wangi tubuh menjadi tak lagi sedap wanginya saat tiba di kantor dan berinteraksi di ruangan ber-AC.
Aku menyebutnya Jembatan 'Aborsi'. Dan jelas ini bukanlah nama resmi yang diberikan kepadanya. Karena sebenarnya, secara resmi dia adalah jembatan penyeberangan yang dipakai para pengguna untuk menyeberang dari sebelah sini ke sebelah sana *halah, bahasane iki lo, rek! di Stasiun UI, Depok.
Sebenarnya ini sih bukan nama resmi, karena sesungguhnya, aku sendirilah yang menjulukinya. Namun, saking 'perih'nya rasa lelah dan tingginya perjuangan yang harus kita lakukan demi menaiki jembatan ini, tampaknya banyak pengguna yang sepakat menamakannya 'Jembatan Aborsi' untuk jembatan penyeberangan yang satu ini. Habis, semua pengguna merasa kewalahan sih.
Berlokasi di Stasiun UI (Universitas Indonesia). Aku secara serius pernah menghitung jumlah anak tangga yang harus kita lalui saat menggunakannya, dan terhitung ada 198 anak tangga yang harus kita tempuh untuk mencapai ujung sana maupun sebaliknya. Olala! Sebuah angka yang bagi anak muda mungkin biasa aja, sih, tapi bagiku, aih, ini mah melelahkan banget! Angka ini lebih kurang lo, ya, soalnya udah dua tahun ini aku tak lagi menggunakannya.
Pingsan di puncak tangga
Bukan, bukan aku yang pingsan. Hehe. Tapi seorang ibu hamil, yang dengan susah payah harus menaiki anak tangga demi anak tangga, untuk bisa mencapai stasiun UI demi menumpang commuterline. Kejadian ini terjadi pada suatu pagi, di mana orang-orang memang harus bergegas, gercep untuk mencapai kantor. Yes, terjadi pada jam sibuk. Si bumil terengah dan harus terus melangkah. Napas yang saling berkejaran, menyebabkan asupan oksigen dan pengeluaran karbondioksida tak lagi seimbang, menjadikan napas tersengal dan akhirnya membuatnya jatuh terkulai. Suasana langsung ramai. Heboh.
'Kutukan demi kutukan' pun mengalir ke si perancang jembatan ini. Disertai komplen yang mengalir sambung menyambung.
"Ini perancangnya tega banget sih. Bikin anak tangga kok tinggi-tinggi gini, kan capek ngangkat lututnya! Mbok ya dibikin landai kayak jembatan lain napa? Tinggi juga, tapi landai, jadi ga kayak mendaki gunung yang terjal." Dan seterusnya.
Anyway, ini jembatan 'aborsi' emang bikin ilfil. Aku pernah mencoba beberapa trik demi menaklukkan anak tangga ini. Pernah meniru gaya para diplomat Turki (di kantorku), yang setiap menaiki anak tangga, mereka menggunakan aksi berlari. Katanya dengan berlari, kita akan lebih bertenaga dan ga merasakan lelah. Ok, aku pun mencobanya. Aku berlari menaiki 99 anak tangga sebelah sini, dan berhenti di puncaknya beberapa detik, lalu berlari lagi menuruni bagian sebelah sini hingga sampai di anak tangga terbawah.
Does it work, Al?
No! Haha. Ampyun. Mungkin karena aku sudah begitu 'membenci' si tangga UI ini kali ya? Jadi apapun cara yang aku lakukan, tetap akan membuat aku lelah. Hayati lelah, Bang!
Apalagi di saat terakhir itu, aku baru saja sembuh dari sakit dan dalam masa pemulihan di mana aku harus mulai masuk kerja. Hayyah, setiap pagi dan pulang kerja, melalui anak tangga demi anak tangga si jembatan 'aborsi' ini adalah my nightmare! Hiks...
Hingga kemudian, aku mengambil keputusan yang sebenarnya sulit. Aku lebih rela berenang di dalam lautan kemacetan dari Jalan Margonda Depok ke Jalan Rasuna Said, di Kuningan - Jakarta Selatan sana. Mengemudikan Gliv (nama mobilku) menuju kantor. Biarlah aku kejebak macet, daripada harus berlarian menaiki dan menuruni tangga jembatan yang satu itu.
Untungnya, kejadian itu hanya berlangsung kurang lebih 3 bulanan, karena setelahnya, aku memutuskan resign dari kantor. Eits, bukan karena lelah oleh jembatan 'aborsi' ini, lo, ya! Tapi karena family reason, di mana aku ingin menemani ibu merawat ayah yang terkena serangan jantung, di Bandung. Jadilah aku kembali ke Bandung hingga kini.
Well, steemians, itulah sekelumit ceritaku pagi ini. Kalo kalian, pernahkah dihadapkan oleh suasana seperti itu? Punya kondisi yang bikin ilfil seperti itu? Share yuk di kolom komentar.